Kontributor : Luthfia Kinanthi
Ada masa ketika mimpi terasa sederhana. Kita menuliskannya di buku harian, menyebutkannya dalam obrolan dengan sahabat, atau membayangkannya sebelum tidur tanpa banyak keraguan.
Sebagai seorang gadis dikomunitas janda menjadi sukses, memiliki pekerjaan yang disukai, hidup mandiri, atau membangun masa depan yang nyaman terasa seperti sesuatu yang bisa dicapai selama kita mau berusaha. Namun, semakin dewasa, kita menyadari bahwa mimpi tidak pernah hidup sendirian.
Ia tumbuh bersama ekspektasi keluarga, tuntutan sosial, kondisi ekonomi, dan berbagai perbandingan yang datang dari lingkungan sekitar. Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan kompetitif, angan-angan yang awalnya menjadi sumber harapan perlahan berubah menjadi arena pertarungan.
βBukan hanya dengan keadaan, tetapi juga dengan orang-orang yang sebenarnya menginginkan hal yang samaβ
Ketika Mimpi yang Sama Terasa Seperti Perlombaan
Anganku dan anganmu lahir dari tempat yang sama: harapan. Harapan untuk hidup lebih baik daripada hari ini, untuk memiliki ruang menentukan nasib sendiri, dan untuk membuktikan bahwa masa depan masih layak diperjuangkan.
Tetapi di zaman ketika harga terus naik, pekerjaan semakin sulit didapat, dan keberhasilan terasa semakin eksklusif, harapan tidak lagi sekadar menjadi bahan bakar. Ia berubah menjadi taruhan. Yang membuatnya lebih rumit, kita jarang bertaruh sendirian. Di setiap mimpi yang diperjuangkan, selalu ada orang lain yang menginginkan hal serupa.
Di tengah situasi tersebut, perempuan muda menghadapi tantangan yang unik. Di satu sisi, mereka hidup pada era ketika kesempatan untuk bersekolah tinggi, membangun karier, dan menjadi pemimpin semakin terbuka.
Di sisi lain, mereka masih berhadapan dengan berbagai ekspektasi sosial yang sering kali menempatkan perempuan dalam posisi untuk saling dibandingkan. Ironisnya, banyak perempuan sebenarnya tidak ingin saling mengalahkan. Mereka hanya ingin mengejar mimpi yang sama. Namun masyarakat kerap mengubah perjalanan itu menjadi perlombaan.
Masyarakat lebih suka melihat mereka sebagai pesaing daripada sesama pejuang. Di situlah anganku dan anganmu mulai dipertemukan, bukan sebagai teman seperjalanan, melainkan sebagai lawan dalam perlombaan yang bahkan tidak pernah kita minta.
Budaya Perbandingan yang Tak Pernah Usai
Sejak usia muda, perempuan sering kali diajarkan untuk melihat pencapaian perempuan lain sebagai tolok ukur keberhasilan diri sendiri. Ketika seorang teman mendapatkan pekerjaan impian, pertanyaan yang muncul bukan lagi bagaimana ia berhasil, melainkan mengapa kita belum berada di posisi yang sama.
Ketika seseorang berhasil melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau memperoleh promosi jabatan, kisah tersebut sering kali tidak berhenti sebagai cerita inspiratif. Ia berubah menjadi bahan perbandingan.
Dalam dunia kerja, fenomena ini semakin terlihat. Kesempatan yang terbatas membuat banyak orang merasa bahwa keberhasilan satu orang berarti berkurangnya peluang bagi orang lain.
Narasi yang muncul sering kali bukan tentang bagaimana perempuan dapat tumbuh bersama, melainkan siapa yang paling unggul, paling produktif, atau paling layak mendapat pengakuan. Padahal, keberhasilan tidak pernah memiliki satu bentuk yang sama untuk semua orang.
Sayangnya, budaya kompetisi yang berlebihan membuat perempuan sering kali ditempatkan dalam posisi yang tidak mereka pilih. Mereka diadu berdasarkan pencapaian akademik, karier, penampilan, hingga kehidupan pribadi. Bahkan ketika dua perempuan memiliki tujuan yang sama, lingkungan sekitar dapat menciptakan rivalitas yang sebenarnya tidak perlu.
Saat Relasi Ikut Menjadi Arena Kompetisi
Persaingan tidak hanya muncul dalam urusan pekerjaan. Dalam relasi sosial, perempuan juga sering menjadi objek perbandingan yang terus-menerus. Siapa yang lebih menarik, siapa yang lebih sukses, siapa yang lebih mapan, atau siapa yang dianggap lebih berhasil menjalani hidup.
Bahkan dalam pertemanan, perempuan sering kali dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang mendorong kompetisi terselubung. Siapa yang lebih dulu menikah, siapa yang lebih cepat mencapai kebebasan finansial, atau siapa yang memiliki kehidupan yang terlihat lebih sempurna.
Standar-standar tersebut menciptakan tekanan baru yang tidak selalu terlihat dari luar. Hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh bersama justru berubah menjadi tempat untuk saling mengukur pencapaian.
Media Sosial dan Ilusi Kesuksesan
Kompetisi yang paling berat sering kali bukan dengan orang lain, melainkan dengan diri sendiri. Sayangnya, media sosial memperkuat perasaan tersebut.
Setiap hari, Gen Z disuguhi berbagai pencapaian yang ditampilkan dalam bentuk terbaiknya. Ada yang diterima bekerja di perusahaan impian, berhasil membeli rumah di usia muda, atau memperoleh beasiswa ke luar negeri. Semua keberhasilan itu muncul di layar yang sama, tanpa selalu memperlihatkan perjuangan, kegagalan, atau privilese yang menyertainya.
Akibatnya, banyak perempuan muda mulai menilai dirinya berdasarkan kecepatan mencapai sesuatu. Mereka merasa tertinggal ketika melihat orang lain melaju lebih cepat. Mereka merasa gagal ketika perjalanan hidupnya tidak sesuai dengan standar yang ramai dipamerkan.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, tekanan tersebut menjadi semakin besar. Harga kebutuhan hidup meningkat, lapangan kerja semakin kompetitif, dan masa depan terasa sulit diprediksi. Mimpi yang dahulu terlihat sederhana kini membutuhkan usaha yang jauh lebih besar untuk diwujudkan.
Mimpi Tidak Harus Melahirkan Musuh
Namun mungkin persoalannya bukan karena anganku dan anganmu terlalu tinggi. Persoalannya adalah kita hidup dalam sistem yang sering meyakinkan bahwa hanya ada ruang bagi satu pemenang. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Keberhasilan perempuan lain tidak mengurangi peluang perempuan lainnya untuk berhasil. Mimpi bukan sumber daya yang akan habis ketika dibagi. Sebaliknya, mimpi dapat tumbuh ketika semakin banyak orang saling mendukung untuk mencapainya.
Sudah saatnya perempuan berhenti melihat sesamanya sebagai pesaing alami. Bukan karena kompetensi tidak penting, melainkan karena tidak semua hal harus dimenangkan dengan mengalahkan orang lain.
Ada kalanya kemenangan terbesar justru lahir dari kemampuan untuk berjalan berdampingan, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan di tengah ketidakpastian. Pada akhirnya, anganku dan anganmu tidak harus saling meniadakan. Kita bisa menginginkan hal yang sama tanpa harus menjadi musuh.
Di era ekonomi yang penuh ketidakpastian, keberanian terbesar bukan hanya berani bermimpi, tetapi juga berani percaya bahwa mimpi orang lain tidak mengancam mimpi kita sendiri. Karena dunia yang lebih baik tidak dibangun oleh satu perempuan yang menang sendirian, melainkan oleh banyak perempuan yang berhasil tumbuh bersama.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank Mandiri 1710010724667 LUTHFIA KINANTHI DAR
1710010724667
