Kontributor : Luthfia Kinanthi
Pernah nggak sih kamu dengar orang bilang, “yang penting nyaman”, “yang penting dia baik”, atau bahkan “jalanin aja dulu, nanti juga cocok”? Di saat yang sama, kita juga hidup di era di mana kalimat seperti “married is scary” makin sering terdengar.
Bukan tanpa alasan, realitas menunjukkan bahwa banyak pernikahan berakhir bukan karena kurang cinta, tapi karena sejak awal dua orang yang bersama memang tidak benar-benar saling cocok. Ironisnya, banyak orang justru masuk ke hubungan serius tanpa benar-benar tahu apa yang mereka butuhkan dalam pasangan hidup.
Kriteria dianggap terlalu kaku, terlalu pilih-pilih, bahkan dibilang menghambat datangnya jodoh. Padahal, bisa jadi justru ketiadaan kriteria itulah yang membuat seseorang salah memilih, lalu terjebak dalam hubungan yang melelahkan secara emosional.
Saat Aku Mengira Cinta Saja Sudah Cukup
Sebagai seorang gadis di komunitas janda, aku pun pernah ada di titik itu: mengira bahwa perasaan cukup untuk menjalani semuanya. Sampai akhirnya aku belajar bahwa memilih pasangan hidup bukan soal siapa yang datang dan membuat hati berdebar, tapi tentang siapa yang benar-benar selaras dengan nilai, kebutuhan, dan arah hidup kita.
Kala itu, aku masih sangat muda. Sampai sekarang pun masih sangat muda si, hehe. Waktu itu aku adalah seorang gadis SMA yang mulai mengenai rasa cinta. Sebagai seorang anak rohis kriteria laki-laki yang tergambar dalam pikiran adalah seorang yang mempunyai kadar keimanan dan pendidikan yang tinggi, anak sunnah, kalau bisa ya hafiz quran.
Ketika “Kriteria Ideal” Ternyata Bukan Berarti Cocok
Nyatanya aku pernah mendapatkan seseorang yang seperti itu. Namun hubungan tidak berjalan seperti apa yang aku harapkan. Aku sempat terpuruk karena berfikir bahwa aku kurang baik. Kan selogannya: laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Dia orangnya baik, berarti aku nggak baik dong kan kita nggak cocok? Tapi sekali lagi nggak semudah itu.
Belajar Membedakan Kriteria Luar dan Kriteria Dalam
Setelah aku move on aku belajar banyak sekali soal romansa dari berbagai komunitas dan dating coach yang tersertifikasi. Akhirnya aku mengerti bahwa secara umum memilih kriteria itu dibagi ke dalam kriteria luar dan dalam. Kriteria luar itu seperti fisik, pekerjaan, dan latar belakang. Kriteria dalam itu seperti nilai hidup, cara berpikir, emosi, visi masa depan.
Yang Baik Belum Tentu Berjalan ke Arah yang Sama
Setelah aku pikir-pikir ternyata aku dan dia emang nggak cocok. Meski murabbiku dan ibuku sempat setuju, kita nggak bener-bener berjalan ke arah yang sama.
Kita punya ego masing-masing yang nggak bisa ngalah, dan nampaknya dia memiliki kriteria perempuan berpendidikan tinggi yang memilih menjadi IRT. Aku sama sekali bukan tipe seperti itu.
Aku bersyukur mengenal ilmu ini jauh sebelum aku memiliki pasangan. Sekarang aku lebih logis dan selektif dalam memilih.
Aku menyadari bahwa “yang baik dan baik belum tentu cocok. Butuh dua orang yang sama-sama baik, cocok, dan diridhoi Allah”.
Kalau Mau Belajar Menyusun Kriteria Pasangan…
Kiat-kiat memilih pasangan ini bisa kamu pelajari melalui rekaman webinar di website ruang bertumbuh. Kalau kamu mau belajar lebih mendalam kamu bisa minta rekaman cara membuat kriteria ke Kak Paw atau Admin Ruang Bertumbuh. Udah chat aja gausah sungkan adminnya baik dan tidak menggigit kok :P.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank Mandiri 1710010724667 LUTHFIA KINANTHI DAR
1710010724667
