Kontributor :Β Nufus Afitria
“Mengapa healing terasa begitu melelahkan?”
Pertanyaan itu baru bisa kujawab setelah suatu siang aku duduk di sebuah ruang konseling.
Ruangan itu sederhana. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan, sebuah meja kecil, dan sekotak tisu yang sejak awal sengaja tidak kulirik. Aku datang membawa satu keyakinan: aku hanya ingin bercerita tentang perceraian. Tentang bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dengan tiga anak yang harus memulai hidup dari awal setelah rumah tangga yang selama ini kuperjuangkan akhirnya benar-benar berakhir.
Kupikir, luka terbesarku dimulai dari sana.
Ternyata aku keliru.
Di tengah sesi, konselorku tidak buru-buru memberiku solusi. Ia hanya bertanya pelan, “Kalau bukan tentang perceraian, menurutmu sejak kapan kamu mulai merasa harus selalu kuat?”
Pertanyaan sederhana itu membuatku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa air mata yang mengalir hari itu bukan hanya milik perempuan dewasa yang sedang bercerai. Ada seorang anak kecil di dalam diriku yang selama bertahun-tahun juga ingin didengar.
Saat itulah perjalanan healing-ku benar-benar dimulai.
Banyak orang mengira healing adalah proses melupakan masa lalu. Dulu aku juga berpikir begitu. Aku berharap, setelah mengikuti kelas, membaca buku, atau datang ke ruang konseling, hidupku akan kembali seperti semula.
Namun healing ternyata bukan mesin waktu.
Ia tidak mengembalikan kita ke versi lama.
Ia justru mengajak kita membongkar bangunan lama yang selama ini kita kira sudah kokoh.
Dan percaya atau tidak, proses membangun ulang itu jauh lebih melelahkan daripada sekadar bertahan.
Ketika aku sadar, masalahnya bukan hanya perceraian
Setelah beberapa kali menjalani konseling, perlahan aku mulai melihat pola yang selama ini tidak kusadari.
Mengapa aku selalu takut mengecewakan orang?
Mengapa aku sulit mengatakan “tidak”?
Mengapa aku lebih mudah memeluk kesedihan orang lain dibanding menerima kelemahanku sendiri?
Ternyata jawabannya tidak lahir ketika aku menikah.
Sebagian besar sudah ada jauh sebelum itu.
Psikologi mengenalnya sebagai inner child, yaitu bagian diri yang terbentuk dari pengalaman masa kecil. Luka-luka yang tidak pernah diproses sering kali tidak hilang begitu saja. Ia tumbuh diam-diam, lalu memengaruhi cara kita mencintai, mengambil keputusan, bahkan memilih pasangan.
Aku tidak menulis ini untuk menyalahkan orang tua.
Setiap orang tua memiliki cerita dan keterbatasannya sendiri.
Namun ada satu hal yang perlu kita sadari: memahami asal luka bukan berarti mencari siapa yang salah. Memahami asal luka adalah langkah pertama agar kita tidak terus mengulang pola yang sama.
Bukankah kita semua ingin berhenti mewariskan luka kepada orang yang kita cintai?
Ternyata tubuhku juga sedang berbicara
Ada hal lain yang baru kusadari setelah proses healing berjalan.
Tubuh ini ternyata tidak pernah bisa diajak berbohong.
Selama bertahun-tahun aku sering mengalami tekanan darah rendah, alergi, mudah pusing, kulit yang bermasalah, hingga berat badan yang tidak ideal. Dulu kupikir semuanya hanya soal kondisi fisik.
Aku sibuk mencari vitamin.
Mencari obat.
Mengubah pola makan.
Semuanya penting. Namun ternyata ada bagian lain yang belum pernah kusentuh.
Hatiku.
Aku mulai belajar bahwa emosi yang terus dipendam bisa menjadi beban yang juga dirasakan tubuh. Sedih yang tidak pernah diberi ruang, marah yang selalu ditelan, rasa takut yang terus disimpan, semuanya bisa membuat tubuh bekerja lebih keras. Bukan berarti semua penyakit berasal dari emosi, tetapi kesehatan fisik dan kesehatan psikologis memang saling memengaruhi.
Pantas saja, tubuhku seperti terus meminta perhatian.
Ia sedang berusaha mengatakan sesuatu yang selama ini tidak mau kudengar.
Pernahkah kamu merasa tubuhmu lelah, padahal hasil pemeriksaan medis tidak menunjukkan sesuatu yang serius?
Jangan-jangan tubuhmu sedang meminta waktu untuk didengarkan, bukan hanya diobati.
Bertumbuh ternyata tidak bisa sendirian
Kalau ada satu keputusan yang paling kusyukuri dalam perjalanan ini, mungkin jawabannya sederhana: aku meminta bantuan.
Dulu aku mengira meminta bantuan adalah tanda kelemahan.
Sekarang aku tahu, justru keberanian untuk berkata, “Aku tidak sanggup sendirian,” adalah salah satu bentuk kekuatan terbesar.
Aku dipertemukan dengan orang-orang baik.
Ada profesional yang membantuku memahami pikiranku.
Ada mentor yang mengajarkanku melihat hidup dari sudut pandang berbeda.
Ada teman-teman seperjalanan yang tidak sibuk menghakimi, tetapi memilih menemani.
Mereka tidak menyembuhkan hidupku.
Mereka hanya membantuku menemukan jalan pulang kepada diriku sendiri.
Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.
Healing mengubah semua aspek hidupku
Yang berubah ternyata bukan hanya pikiranku.
Secara mental, aku tidak lagi percaya pada semua suara di kepalaku. Aku belajar membedakan mana fakta, mana ketakutan yang lahir dari luka lama.
Secara emosional, aku mulai berani mengakui perasaanku tanpa malu. Aku tidak lagi merasa harus terlihat kuat setiap saat.
Secara spiritual, aku berhenti memaksa Tuhan mengikuti rencanaku. Aku mulai belajar percaya bahwa tidak semua kehilangan adalah hukuman. Ada kehilangan yang justru menjadi jalan pulang.
Secara sosial, lingkaranku mengecil. Namun anehnya, aku justru merasa lebih damai. Aku tidak lagi mengejar hubungan yang menguras energi hanya agar diterima.
Secara finansial, aku belajar berdiri di atas kakiku sendiri. Sebagai ibu dengan tiga anak, itu bukan perjalanan yang mudah. Tetapi dari sana aku menemukan bahwa rezeki terbesar bukan hanya uang yang bertambah.
Rezeki terbesar adalah hati yang tenang ketika bekerja.
Karena sekarang aku bekerja bukan lagi untuk membuktikan bahwa aku mampu.
Aku bekerja karena aku ingin menghadirkan kehidupan yang lebih sehat bagi diriku dan anak-anakku.
Aku tidak ingin kembali menjadi diriku yang dulu
Kalau hari ini ada yang bertanya, “Kalau bisa mengulang waktu, apakah kamu ingin hidupmu kembali seperti dulu?”
Jawabanku mungkin akan mengejutkan.
Tidak.
Bukan karena masa laluku buruk.
Tetapi karena perempuan yang sekarang ini lahir dari semua proses itu.
Aku memang kehilangan banyak hal.
Namun aku juga menemukan banyak hal yang dulu tidak pernah kumiliki, yaitu:
Kesadaran.
Ketenangan,dan
Keberanian.
Dan yang paling penting, hubungan yang jauh lebih sehat dengan diriku sendiri.
Healing ternyata bukan tentang kembali menjadi versi lama.
Healing adalah keberanian menerima bahwa kita sedang tumbuh menjadi seseorang yang baru.
Sebelum kamu menutup tulisan ini, izinkan aku bertanya satu hal.
Kapan terakhir kali kamu benar-benar mendengarkan dirimu sendiri?
Bukan mendengarkan tuntutan orang lain.
Bukan mendengarkan rasa takutmu.
Tetapi mendengarkan suara hatimu yang paling jujur.
Mungkin, jawaban dari pertanyaan itu adalah awal dari perjalananmu sendiri.
Untukmu yang sedang membaca tulisan ini, semoga Tuhan selalu menjaga hatimu di tengah proses yang mungkin tidak mudah. Semoga langkahmu dipenuhi keberanian untuk meminta bantuan ketika lelah, dipenuhi kebijaksanaan untuk menerima hal-hal yang tidak bisa diubah, dan dipenuhi harapan bahwa selalu ada kesempatan untuk bertumbuh.
Semoga tubuhmu semakin sehat karena jiwamu mulai didengar. Semoga lukamu tidak lagi menjadi tempat tinggal, melainkan menjadi sumber empati yang menguatkanmu dan orang-orang di sekitarmu.
Dan semoga, suatu hari nanti, ketika kamu menoleh ke belakang, kamu bisa tersenyum sambil berkata, “Ternyata semua yang pernah terjadi bukan untuk menghancurkanku, melainkan membentukku menjadi diriku hari ini.”
Jika tulisan ini menemanimu merenung atau memberi manfaat, kamu dapat mendukung karya-karyaku melalui tautan donasi yang tersedia di bawah. Terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan bertumbuh ini. Semoga setiap kebaikan yang kamu titipkan kembali kepadamu dalam bentuk keberkahan yang tak terduga. π€
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sangΒ penulisΒ lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Ovo
085287957735
