Kontributor : Luthfia Kinanthi
Dulu aku pikir aku tahu persis seperti apa laki-laki yang aku butuhkan. Sebagai anak rohis, standarku jelas:
Religius.
Punya pemahaman agama yang baik.
Kalau bisa, hafiz Al-Qur’an.
Di kepalaku waktu itu, semakin tinggi nilai agamanya, semakin besar kemungkinan hubungan itu berhasil. Sederhana. Rapi. Seolah tidak mungkin salah.
Dan Aku Benar-Benar Dipertemukan dengan Sosok Itu
Dia datang dengan semua yang dulu aku minta.
Baik.
Terjaga.
Lingkungannya mendukung.
Kalau hidup ini soal checklist, harusnya dia sudah centang semua.
Harusnya aku cukup.
Harusnya ini berhasil.
Tapi ternyata tidak.
Tidak Ada Drama—Tapi Juga Tidak Ada “Kita”
Hubungan itu tidak hancur dengan ledakan.
Tidak ada pertengkaran besar.
Tidak ada kesalahan fatal.
Tapi pelan-pelan sebagai seorang gadis di komunitas janda, aku mulai sadar sesuatu yang lebih mengganggu: Aku tidak merasa pulang.
Kami sering berbeda cara pandang.
Obrolan terasa tidak benar-benar menyatu.
Dan yang paling jujur—aku tidak merasa bisa menjadi diriku sendiri sepenuhnya.
Bukan karena dia jahat, Tapi karena kami… tidak nyambung.
Rasa Bersalah yang Diam-Diam Menggerogoti
Dan di titik itu, konflik sebenarnya bukan di hubungan kami, tapi di dalam kepalaku sendiri. Aku mulai berpikir:
“Kalau dia sudah sebaik ini, berarti yang kurang itu aku ya?”
Aku mengukur diriku dari kegagalan hubungan itu. Karena aku percaya satu kalimat yang ternyata terlalu aku sederhanakan: “Laki-laki baik untuk perempuan baik. Jadi kalau tidak berhasil, pasti aku yang tidak cukup baik.” Dan itu menyakitkan.
Kesadaran yang Nggak Nyaman, Tapi Jujur
Butuh waktu untuk menerima kenyataan yang sebenarnya sederhana tapi sulit diakui: Baik tidak otomatis berarti cocok. Dan dua orang yang sama-sama “benar” tetap bisa tidak berjalan ke arah yang sama.
Kami punya bayangan hidup yang berbeda.
Cara menjalani peran yang berbeda.
Dan tidak ada yang salah dari itu.
Yang salah adalah kalau dipaksakan.
Aku Tidak Menolak Dia—Aku Menerima Kenyataan
Keputusan untuk tidak melanjutkan bukan hal yang mudah. Apalagi ketika orang di sekitarku melihat dia sebagai sosok yang “ideal”. Tapi di situ aku belajar satu hal yang sangat penting: Menolak ketidakcocokan bukan berarti menolak kebaikan.
Aku tidak pergi karena dia kurang.
Aku pergi karena kami tidak selaras.
Dan itu dua hal yang sangat berbeda.
Tidak Semua yang Ideal Itu Tepat untuk Kamu
Sekarang aku melihat semuanya dengan lebih jernih. Bahwa dalam memilih pasangan, kita tidak hanya butuh seseorang yang baik. Kita butuh seseorang yang:
- baik,
- cocok,
- dan bisa berjalan ke arah yang sama.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan soal siapa yang terlihat paling sempurna. Tapi siapa yang benar-benar bisa kamu jalani hidupnya tanpa kehilangan dirimu sendiri. Kadang keberanian terbesar bukan memilih seseorang yang terlihat ideal. Tapi berani berkata: “Dia baik. Tapi dia bukan untukku.”
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank Mandiri 1710010724667 LUTHFIA KINANTHI DAR
1710010724667
