Kontributor :Β Nufus Afitria
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. At-Talaq: 3)
Umrah selalu memiliki cerita yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang pulang membawa harapan baru, ada yang pulang dengan hati yang lebih tenang, dan ada pula yang pulang karena akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaan yang selama ini tidak pernah selesai. Bagiku, umrah kali ini bukan sekadar perjalanan menuju Tanah Suci. Perjalanan ini adalah cara Allah memperkenalkanku pada makna berserah yang selama ini hanya kupahami sebagai teori.
Selama sembilan tahun menjalani pernikahan, aku pernah membayangkan bisa memenuhi panggilan Allah bersama keluarga kecilku. Di dalam bayanganku, aku akan menggenggam tangan suami, berjalan berdampingan menuju Ka’bah, lalu mengajarkan anak-anak tentang kiblat yang setiap hari mereka hadapkan saat salat.
Aku menunggu kesempatan itu bertahun-tahun.
Namun nyatanya momen itu tidak pernah datang.
Lucunya, justru tiga bulan setelah aku dan mantan suami memilih berpisah, Allah memanggilku kembali.
Begitu cepat.
Begitu sederhana.
Semua di luar rencana yang pernah kususun.
Saat itu aku baru menyadari, sering kali manusia menghabiskan tenaga untuk mengejar waktu versinya sendiri. Padahal, Allah selalu memiliki waktu terbaik yang sering kali baru kita pahami ketika semuanya telah terjadi.
Sebagai seorang ibu dari tiga anak sekaligus konselor yang setiap hari mendengarkan cerita dan luka banyak orang, aku sering mengingatkan bahwa menerima takdir bukan berarti menyerah. Namun, ternyata mengucapkannya jauh lebih mudah daripada menjalaninya.
Perpisahan membuat hidupku berubah dalam waktu singkat.
Statusku berubah.
Rutinitasku berubah.
Cara memandang hidup pun perlahan ikut berubah.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Aku selalu percaya, jika Allah mengambil sesuatu dari hidup kita, Dia tidak pernah membiarkan tangan kita kosong terlalu lama.
Aku hanya belum tahu, salah satu hadiah itu ternyata adalah undangan menjadi tamu-Nya.
Allah Memanggil dengan Cara yang Tidak Pernah Kuduga
Sampai hari ini aku masih sering tersenyum sendiri ketika mengingat bagaimana proses keberangkatan itu terjadi.
Tidak ada tabungan khusus yang sejak lama disiapkan untuk umrah.
Tidak ada target bahwa tahun itu aku harus berangkat.
Bahkan beberapa minggu sebelumnya, aku sama sekali tidak membayangkan akan menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Namun ketika Allah berkehendak, semuanya seperti disusun begitu rapi.
Dalam waktu yang sangat singkat, semua proses yang terlihat rumit justru dimudahkan satu per satu.
Seolah-olah setiap pintu yang sebelumnya tertutup perlahan dibukakan.
Saat itu aku belajar bahwa Allah tidak selalu memenuhi keinginan kita sesuai jadwal yang kita buat.
Kadang Dia justru mengundang kita ketika hati sedang paling membutuhkan-Nya.
Mungkin itulah mengapa ada orang yang baru bisa berangkat umrah setelah puluhan tahun menunggu.
Ada pula yang tiba-tiba dipanggil tanpa pernah merencanakannya.
Bukan karena siapa yang lebih pantas.
Melainkan karena Allah mengetahui kapan hati seorang hamba benar-benar siap untuk pulang kepada-Nya.
Berangkat Sendirian, Tetapi Tidak Pernah Merasa Sendiri
Umrah kali ini juga berbeda karena aku berangkat seorang diri.
Tidak bersama keluarga.
Tidak bersama sahabat.
Bahkan sampai tiba di bandara, aku belum mengenal satu pun wajah yang akan menjadi teman seperjalanan.
Di tengah keramaian orang-orang yang datang bersama pasangan, saudara, atau rombongan masing-masing, aku berdiri sambil menggenggam koper dan menghela napas pelan.
Ada sedikit rasa canggung.
Ada sedikit rasa takut.
Tetapi anehnya, tidak ada rasa kesepian.
Justru saat itu aku merasa sedang diajak Allah belajar satu hal.
Bahwa tidak semua perjalanan hidup harus ditemani oleh orang yang sudah kita kenal.
Kadang Allah mempertemukan kita dengan orang-orang baru agar kita menyadari, pertolongan-Nya bisa datang melalui siapa saja.
Sesampainya di bandara, kami mulai saling berkenalan.
Ternyata rombongan kami hanya terdiri dari sembilan orang.
Jumlah yang terasa begitu kecil dibandingkan rombongan umrah pada umumnya.
Aku bahkan menjadi peserta termuda di antara mereka.
Awalnya aku sempat bertanya dalam hati, “Kenapa ya Allah?”
Namun perjalanan beberapa hari kemudian menjawab semuanya.
Rombongan kecil itu membuat kami lebih banyak berbincang.
Lebih banyak saling membantu.
Lebih banyak berbagi cerita.
Aku belajar bahwa keluarga tidak selalu dibentuk oleh hubungan darah.
Kadang Allah mempertemukan orang-orang asing untuk saling menguatkan dalam perjalanan menuju-Nya.
Dan bukankah hidup juga seperti itu?
Ada orang yang bertahun-tahun hadir tetapi tidak pernah benar-benar mengerti kita.
Sebaliknya, ada pula orang yang baru kita kenal beberapa hari, tetapi kehadirannya meninggalkan pelajaran yang akan terus kita ingat seumur hidup.
Datang Membawa Tubuh yang Kurang Sehat
Beberapa hari sebelum keberangkatan, kondisi tubuhku sebenarnya sedang tidak baik.
Badanku demam, tenggorokan sakit dan seluruh sendi sendi tubuh terasa nyeri.
Aku khawatir, bagaimana jika nanti tidak kuat menjalani seluruh rangkaian ibadah?
Apalagi perjalanan umrah bukan perjalanan yang ringan.
Banyak berjalan.
Banyak berdesakan.
Banyak tenaga yang harus disiapkan.
Namun entah mengapa, di balik tubuh yang sedang kurang sehat itu, ada keyakinan yang sulit dijelaskan.
Aku masih mengingat dengan jelas ketika berkata kepada pemimpin rombongan,
“InsyaAllah nanti begitu sampai di sana saya sembuh.”
Beliau hanya tersenyum.
Sementara aku sendiri juga tidak tahu dari mana keyakinan itu datang.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Seolah ada bisikan kecil di dalam hati yang mengatakan bahwa Allah tidak akan meninggalkan tamu-Nya.
Dan benar saja.
Begitu pesawat mendarat.
Begitu kakiku menginjak tanah Mekah.
Begitu mataku mulai mencari-cari arah Ka’bah.
Semua keluhan yang sebelumnya kurasakan seperti menghilang perlahan.
Aku mampu mengikuti seluruh rangkaian ibadah tanpa hambatan berarti.
Aku tidak mengatakan bahwa semua orang akan mengalami hal yang sama.
Ini hanyalah pengalaman pribadiku.
Namun dari pengalaman itu aku belajar, terkadang tubuh kita jauh lebih kuat daripada yang kita bayangkan ketika hati merasa sedang pulang kepada Allah.
Ketika Allah Langsung Mempertemukanku dengan Ka’bah
Sebagian besar jamaah Indonesia biasanya memulai perjalanan dari Madinah.
Namun rombongan kami justru langsung menuju Mekah.
Artinya, tidak ada banyak waktu untuk menyiapkan hati.
Tidak ada jeda panjang.
Aku langsung dipertemukan dengan rumah Allah.
Langsung bersiap mengenakan ihram.
Langsung menjalani thawaf.
Dan mungkin… memang seperti itulah cara Allah menyambutku.
Tanpa banyak menunggu.
Tanpa banyak berpikir.
Karena kalau diberi terlalu banyak waktu, mungkin aku akan kembali sibuk dengan pikiranku sendiri.
Malam itu, ketika langkah kakiku mulai memasuki pelataran Masjidil Haram, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aku tahu, beberapa langkah lagi aku akan kembali melihat Ka’bah.
Tempat yang terakhir kali kulihat bertahun-tahun lalu.
Tempat yang selama ini hanya bisa kukunjungi melalui doa dan kerinduan.
Lalu…
Di antara lautan manusia yang terus bergerak, akhirnya mataku bertemu kembali dengan Ka’bah.
Aku berhenti.
Benar-benar berhenti.
Air mataku mengalir begitu saja.
Bukan karena sedih.
Bukan pula karena semua masalahku tiba-tiba selesai.
Melainkan karena satu kalimat sederhana yang terus berputar di dalam hati.
“Ya Allah… terima kasih.”
“Aku akhirnya kembali lagi.”
Kalimat itu terus berulang.
Terima kasih karena Engkau masih mengizinkanku menjadi tamu-Mu.
Terima kasih karena Engkau memanggilku kembali dengan cara yang tidak pernah kubayangkan.
Lalu aku tersenyum di tengah tangis itu.
Umrah pertamaku kulakukan ketika aku masih seorang gadis.
Dan tanpa pernah kuduga, umrah keduaku pun Allah izinkan ketika aku kembali sendiri.
Statusku memang berubah.
Namun kasih sayang Allah kepadaku ternyata tidak pernah berubah.
Justru saat itulah aku mulai memahami, mungkin Allah tidak sedang membawaku kembali ke Tanah Suci untuk mengubah takdirku.
Mungkin… Dia sedang membawaku pulang untuk mengubah hatiku.
Doa yang Berubah di Depan Ka’bah
Aku tidak ingat berapa lama aku berdiri memandangi Ka’bah malam itu.
Yang kuingat hanyalah air mata yang terus mengalir tanpa bisa kutahan.
Aku datang membawa banyak cerita.
Tentang pernikahan yang telah usai.
Tentang status baru sebagai seorang ibu tunggal.
Tentang anak-anak yang sedang belajar menerima perubahan.
Tentang masa depan yang masih tampak samar.
Namun, anehnya, ketika akhirnya berada di hadapan Ka’bah, semua daftar doa yang sebelumnya kususun rapi justru menghilang begitu saja.
Aku tidak lagi sibuk meminta agar hidupku kembali seperti dulu.
Aku tidak lagi memohon agar semua yang hilang dikembalikan.
Allah seperti sedang mengajariku bahwa tidak semua kehilangan harus dipulihkan dengan cara yang sama.
Ada kehilangan yang justru membuka jalan bagi pertemuan yang lebih besar dengan-Nya.
Doaku malam itu berubah menjadi sangat sederhana.
“Ya Allah… kalau memang anak bungsuku lebih baik berada di sana, lapangkanlah hatiku untuk menerimanya. Jangan biarkan egoku mengalahkan takdir yang telah Engkau tetapkan.”
Aku menarik napas panjang sebelum melanjutkan doa berikutnya.
“Tetapi jika Engkau masih mengizinkan kami kembali bersama, bukakanlah jalan itu dengan cara terbaik menurut-Mu. Bukan menurut waktuku, melainkan menurut waktu-Mu.”
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami perbedaan antara memaksa dan berserah.
Berserah bukan berarti berhenti berharap.
Berserah adalah tetap berharap, tetapi tidak lagi memaksa Allah mengikuti rencana kita.
Bukankah selama ini sering kali kita lebih sibuk mengatur Allah melalui doa-doa kita?
Kita menentukan kapan.
Bagaimana.
Melalui siapa.
Padahal tugas kita hanyalah berdoa dan berikhtiar.
Sisanya adalah wilayah Allah.
Dan ternyata… wilayah Allah selalu lebih indah daripada yang mampu kita bayangkan.
Tawaf yang Mengubah Cara Pandangku
Putaran demi putaran thawaf terasa seperti sedang mengurai simpul-simpul yang selama ini mengikat hati.
Di sekelilingku, ribuan manusia berjalan dengan ritme yang sama.
Ada yang menangis.
Ada yang tersenyum.
Ada yang terus berzikir.
Mungkin masing-masing membawa cerita yang tidak kalah berat.
Namun malam itu kami dipersatukan oleh satu tujuan.
Mengelilingi rumah Allah.
Saat itulah sebuah pemikiran sederhana muncul.
Hidup ternyata mirip seperti thawaf.
Kadang kita merasa hanya berputar-putar di masalah yang sama.
Merasa doa belum dijawab.
Merasa jalan hidup tidak ke mana-mana.
Padahal, setiap putaran sesungguhnya sedang membawa kita semakin dekat kepada pusat kehidupan.
Semakin dekat kepada Allah.
Barangkali bukan hidup kita yang sedang berputar.
Melainkan hati kitalah yang sedang diputar agar menghadap ke arah yang benar.
Aku tersenyum sendiri.
Ternyata selama ini aku terlalu fokus pada garis akhirnya.
Padahal Allah ingin aku menikmati prosesku.
Madinah, Kota yang Membuatku Jatuh Cinta
Jika Mekah membuatku belajar berserah, maka Madinah membuatku merasa dicintai.
Begitu tiba di kota itu, suasananya benar-benar berbeda.
Udara terasa lebih sejuk.
Langkah menjadi lebih pelan.
Hati seperti otomatis ikut tenang.
Aku mengerti mengapa banyak orang mengatakan bahwa Mekah mengajarkan kebesaran Allah, sedangkan Madinah mengajarkan kelembutan Rasulullah.
Dan aku merasakan keduanya.
Saat pertama kali melihat kubah hijau Masjid Nabawi, aku hanya bisa memandanginya dalam diam.
Sulit menjelaskan perasaan itu.
Rasanya seperti bertemu seseorang yang sudah lama sekali kita cintai, meskipun belum pernah benar-benar berjumpa.
Ada haru yang tidak bisa diterjemahkan oleh kata-kata.
Di dalam hati aku hanya berbisik,
“Assalamu’alaika ya Rasulullah… akhirnya aku kembali.”
Aku tahu Rasulullah ο·Ί telah wafat lebih dari empat belas abad yang lalu.
Namun rasa rindu kepada beliau terasa begitu nyata.
Bahkan ketika akhirnya Allah memudahkan langkahku memasuki area makam Rasulullah, aku hanya mampu menahan tangis.
Sebelumnya aku mendengar banyak cerita bahwa masuk ke sana sering kali membutuhkan perjuangan.
Namun lagi-lagi, Allah membukakan jalan dengan cara yang begitu lembut.
Saat itu aku kembali belajar.
Bila Allah sudah mengundang, Dia pula yang akan mempermudah jalannya.
Aroma yang Masih Tertinggal
Kalau ada yang bertanya, apa yang paling kurindukan dari Madinah?
Mungkin banyak orang akan menjawab kubah hijaunya.
Atau suara azannya.
Atau keindahan Masjid Nabawi.
Jawabanku sedikit berbeda.
Yang paling kurindukan yaitu aroma karpet di masjid Nabawi.
Mungkin terdengar sederhana.
Namun sampai hari ini, setiap kali mengingat aroma itu, dadaku selalu terasa hangat.
Aku masih ingat saat bersujud di pelataran dekat makam Rasulullah ο·Ί.
Wajahku menyentuh sajadah.
Lalu tercium aroma karpet yang begitu khas.
Harum yang lembut.
Tenang.
Sulit dijelaskan.
Entah mengapa, aroma itu seperti menyimpan rasa aman.
Seolah Allah sedang berkata,
“Istirahatlah sebentar. Kamu sudah berjalan sejauh ini.”
Kadang aku tersenyum sendiri ketika mengingatnya.
Rindu ternyata tidak selalu mengingat tempat.
Kadang ia hanya mengingat aroma.
Dan sampai hari ini, aroma karpet Masjid Nabawi masih menjadi salah satu kenangan paling indah yang kusimpan.
Mungkin karena sebagian hatiku memang masih tertinggal di sana.
Oleh-Oleh Terbesar dari Tanah Suci
Sepulang dari umrah, statusku tidak berubah.
Aku tetap seorang single mom.
Masalah hidupku juga tidak langsung selesai.
Anak bungsuku belum langsung kembali ke pelukanku.
Tanggung jawabku sebagai ibu masih sama besarnya.
Namun ada sesuatu yang pulang bersamaku.
Sebuah hati yang lebih tenang.
Cara pandang yang lebih luas.
Dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah memilih waktu.
Aku datang ke Tanah Suci membawa begitu banyak permintaan.
Aku pulang hanya membawa satu hal.
Kepercayaan.
Percaya bahwa Allah jauh lebih memahami hidupku daripada diriku sendiri.
Percaya bahwa tidak semua doa harus dijawab sesuai keinginanku agar disebut sebagai doa yang dikabulkan.
Kadang doa dikabulkan dengan cara mengubah hati kita terlebih dahulu.
Karena ketika hati sudah berubah, takdir yang sama pun akan terasa berbeda.
Kini aku tidak lagi mengejar hidup yang sempurna.
Aku hanya ingin hidup yang dipenuhi keberkahan.
Aku tidak lagi memohon agar semua jalan menjadi mudah.
Aku hanya berdoa agar Allah selalu membersamai setiap langkahku.
Karena bersama-Nya, jalan yang sulit pun terasa mungkin untuk dilewati.
Untuk Kamu yang Sedang Menunggu Panggilan Allah
Kalau hari ini ada satu hal yang ingin kutitipkan kepadamu, bukanlah nasihat.
Melainkan sebuah pertanyaan.
Sudahkah kita mencintai Allah karena ingin dekat dengan-Nya, atau selama ini kita hanya mendekat ketika hidup terasa berat?
Aku pun masih terus belajar menjawab pertanyaan itu.
Umrah keduaku tidak menghapus semua masalah dalam hidup.
Namun perjalanan itu mengubah caraku memandang setiap masalah.
Aku belajar bahwa damai bukanlah ketika semua persoalan selesai.
Damai adalah ketika hati yakin bahwa Allah sedang menggenggam seluruh cerita kita.
Mungkin hari ini kamu juga sedang menunggu jawaban atas doa-doamu.
Mungkin kamu sedang berada di fase yang melelahkan.
Atau mungkin kamu sedang merasa sendirian.
Percayalah, tidak ada doa yang sia-sia di hadapan Allah.
Tidak ada air mata yang jatuh tanpa diketahui-Nya.
Dan tidak ada langkah kecil menuju-Nya yang luput dari perhatian-Nya.
Semoga Allah mengundangmu menjadi tamu-Nya pada waktu terbaik yang telah Dia tetapkan. Semoga ketika hari itu tiba, kamu datang bukan hanya membawa daftar permintaan, tetapi juga hati yang siap dipeluk oleh kasih sayang-Nya. Semoga setiap sujudmu semakin mendekatkanmu kepada Allah, setiap kehilangan membawamu kepada hikmah, dan setiap penantian menguatkan keyakinan bahwa rencana-Nya selalu lebih indah daripada rencana kita.
Dan jika suatu hari nanti kita sama-sama kembali berdiri di hadapan Ka’bah, semoga kalimat pertama yang keluar dari lisan kita tetap sama seperti yang keluar dari lisanku malam itu,
“Ya Allah… terima kasih. Aku akhirnya pulang.”
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sangΒ penulisΒ lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Ovo
085287957735
