Kontributor : Luthfia Kinanthi
Pernah nggak sih kamu dengar orang bilang:
“yang penting nyaman”,
“yang penting dia baik”, atau bahkan
“jalanin aja dulu, nanti juga cocok”?
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, bahkan menenangkan. Tapi anehnya, kita juga hidup di era di mana kalimat seperti “marriage is scary” makin sering terdengar. Banyak orang takut menikah, bukan karena mereka nggak percaya cinta—tapi karena terlalu sering melihat hubungan yang berakhir melelahkan.
Kalau dipikir-pikir… masalahnya seringkali bukan karena kurang cinta, Tapi karena sejak awal, dua orang yang bersama memang tidak benar-benar cocok.
Masalahnya Bukan Kurang Cinta—Tapi Salah Pilih
Kita sering diajarkan untuk percaya pada perasaan.
Kalau klik, lanjut.
Kalau nyaman, pertahankan.
Tapi yang jarang dibicarakan adalah:
_“Cinta itu bisa tumbuh, tapi ketidakcocokan juga akan tetap ada.”_
Ketika dua orang yang tidak selaras memaksakan diri untuk bertahan, yang terjadi bukan kisah romantis—tapi kelelahan emosional yang pelan-pelan menggerogoti.
Banyak hubungan tidak gagal karena kurang cinta. Tapi karena sejak awal, mereka tidak dibangun di atas kecocokan.
Tanpa Kriteria, Kamu Sedang Menyerahkan Hidup ke Kebetulan
Ironisnya, banyak orang justru masuk ke hubungan serius tanpa benar-benar tahu apa yang mereka butuhkan dalam pasangan hidup. Punya kriteria dianggap terlalu kaku, terlalu pilih-pilih, bahkan dibilang menghambat datangnya jodoh.
Padahal, tanpa kriteria, kamu bukan jadi lebih terbuka—kamu justru jadi lebih rentan salah memilih.
Sebagai seorang gadis dalam komunitas janda: dulu aku juga sempat berpikir bahwa perasaan cukup untuk menjalani semuanya. Selama nyaman, selama dia baik, ya sudah. Tapi semakin aku belajar, aku mulai sadar bahwa memilih pasangan hidup bukan soal siapa yang datang dan membuat hati berdebar, melainkan siapa yang benar-benar selaras.
Selaras dalam cara berpikir.
Selaras dalam nilai hidup.
Selaras dalam arah masa depan.
Dari situ aku belajar satu hal penting: kriteria itu bukan untuk membatasi, tapi untuk melindungi.
Cara Sederhana Membuat Kriteria Pasangan
Secara sederhana kriteria bisa dibagi jadi dua yaitu kriteria luar dan kriteria dalam. Kriteria luar, contohnya adalah fisik, pekerjaan, atau latar belakang. Hal ini penting, tapi biasanya bukan penentu utama. Dan yang sering dilupakan adalah kriteria dalam: cara seseorang melihat hidup, cara dia mengelola emosi, nilai yang dia pegang, dan visi masa depan yang dia bangun.
Masalahnya, banyak orang terlalu fokus ke yang terlihat, tapi abai pada yang akan mereka jalani seumur hidup. Padahal, yang membuat hubungan bertahan bukan sekadar rasa suka—tapi kesesuaian dalam menjalani hidup bersama.
Memilih pasangan hidup bukan soal menemukan yang “cukup baik”, tapi menemukan yang benar-benar tepat untuk kamu jalani bersama. Karena pada akhirnya, yang baik dan baik belum tentu cocok.
Jika selama ini kamu merasa ragu untuk punya kriteria karena takut dibilang terlalu pilih-pilih, mungkin sudah saatnya kamu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank Mandiri 1710010724667 LUTHFIA KINANTHI DAR
1710010724667
