Kontributor : Hany Prayitno
Yang aib itu justru mulut yang lebih cepat bekerja daripada empati. Banyak yang tanya “kapan nikah?, “nanti dunia keburu kiamat!”, “Makanya jangan kebanyakan milih!”
“Standarnya ketinggian, turunin dikitlah!”, “Aku aja udah mau tiga kali menikah, lah kamu sekali juga belum!” Dan masih banyak lagi ujaran yang mempertanyakan status lajangku. Bagi mereka, status lajangku diperlukan bagai laporan akhir tahun, harus segera ditutup, tak boleh molor.
Aku hanya tersenyum. Senyum paling aman. Senyum yang menyelamatkan diri dari debat yang tak pernah ingin dimenangkan. Padahal aku tahu, sebagian besar yang paling lantang mengomentari hidupku juga sedang bergulat dengan pernikahan yang jauh dari kata sempurna.
Untungnya, keluargaku dan sebagian besar temanku tidak bermulut serupa. Walau tetap saja ada beberapa yang gemar menabur komentar seperti duri: kecil, tak terlihat, tapi perih ketika menggores. Aku paham satu hal, saat pernikahan orang lain runtuh tak sesuai harapan, mereka yang paling nyinyir tak pernah ikut bertanggung jawab. Yang tersisa hanya kalimat basi, “Kasihan ya…”—atau lebih pedas lagi ketika statusku berubah menjadi janda.
Aku justru kadang heran pada perempuan-perempuan yang aku tanya kenapa mereka mau menikah dan jawabannya mencengangkan. “mumpung ada yang mau”, atau “ya gimana lagi umur gw udah segini”, “sakit hati gw dibilang perawan tua” dan sebagainya. Alasan-alasan yang terdengar seperti tiket darurat, bukan tujuan perjalanan. Dan sering kali, setelah menikah, yang datang bukan kebahagiaan, melainkan beban: ekonomi yang rapuh, konflik berkepanjangan, orang tua yang kembali menanggung, bahkan perceraian dan KDRT. Sementara aku memegang satu prinsip sederhana tapi keras kepala: jika aku menikah, aku ingin cukup. Cukup secara mental, cukup secara ekonomi, dan tidak menjadikan pernikahan sebagai beban bagi siapa pun di sekitarku.
Si Anak Bungsu Pemalu
Aku terlahir sebagai anak bungsu—yang kemudian bukan lagi bungsu karena adik lahir akibat “kesundulan”. Mungkin sejak itu aku belajar menarik diri. Almarhumah ibuku, pernah berkata bahwa aku baru bisa bicara di usia tiga tahun. Malu bertemu orang, gentar pada sorot mata manusia.
Hingga dewasa, rasa itu tak sepenuhnya pergi. Dunia seolah berhenti berputar ketika namaku dipanggil guru ke depan kelas. Tangan dingin seperti es batu, lidah kelu seperti kehilangan alamat ketika harus maju dan berbicara di depan kelas. Aku lebih akrab dengan buku—tempat aku bisa bersembunyi dan berimajinasi tanpa harus menjelaskan siapa diriku.
Aku juga tumbuh dengan perasaan tidak cantik. Mataku sipit dan sering dibilang mirip Cina Indonesia, bahkan kakakku bercanda menyebutku anak pungut. Maka aku membuat perjanjian diam-diam dengan hidup: Jika aku tak cantik, aku harus pintar.Nilai rapor menjadi cermin kepercayaan diri.
Selama enam tahun SMP dan SMA, les adalah ritual wajib. Rangking adalah pelukan. Ada yang pernah hidup seperti ini juga? Emot ketawa. Ironisnya, ketika mendekati bangku kuliah, semua terasa melelahkan. Les jadi membosankan. Beberapa kali aku mangkir mengikuti kelas les dan cita-cita menjadi dokter pun kandas, berbelok ke ekonomi akuntansi.
Namun Tuhan punya selera humor yang lebih tinggi. Si introvert ini justru menjadi asisten dosen dan harus bicara di depan orang banyak. Untungnya, menjadi asisten dosen mata pelajaran matematika ekonomi sehingga lebih banyak berbicara lewat angka. Angka tidak menatap balik. Angka tidak menghakimi. Tidak perlu berbicara banyak dan berinteraksi intens dengan orang lain. Hobi membacaku menanamkan mimpi tentang dunia lain. Tentang negeri asing, tentang hidup yang lebih luas.
Dan entah bagaimana, dari enam bersaudara, justru aku yang paling sering menjelajah—menyusuri kota-kota Indonesia hingga beberapa negara lain, meski dalam balutan tugas kantor. Hingga akhirnya, aku benar-benar bersekolah di luar negeri. Cuaca berbeda, budaya berbeda, dan cara pandang tentang pasangan hidup pun ikut bertumbuh.
Mengapa Tak Jua Menikah?
Setelah melewati semuaya, akhirnya pertanyaan itu datang juga: “Kenapa aku belum menikah?” Apakah aku perlu diruwat?”, “Apa ada yang salah denganku?”, Atau “alam bawah sadarku yang menolak konsep pernikahan setelah aku terlalu sering menyaksikan kisah yang tidak bahagia dari pernikahan orang lain? Hal ini diperburuk dengan pengalaman romansaku yang meninggalkan memori buruk tentang pasangan hidup.
Laki-laki yang aku cintai dan ingin menikah denganku justru menikah dengan orang lain. Berat badanku turun lima kilogram dalam seminggu. Percaya diriku ikut runtuh dan pada saat kondisiku sedang rapuh, bosku berkata dengan santai, “Suatu hari kamu akan menertawakan dirimu sendiri hanya karena ditinggal menikah.”
Ia mengingatkanku bahwa menikah jangan dijadikan beban. Jangan pula sekadar mengejar keturunan. Menikahlah karena ibadah. Namun ada satu nasihat jenaka tapi menohok: “Kalau cari jodoh, jangan yang bikin kamu baca koran terus apalagi pas kalian lagi berdua.” Alias kalo cari pasanangan itu harus yang enak dipandang, sehat mental, dan cukup secara materi.
Aku pun berikhtiar mendapatkan jodoh, dari yang masuk akal sampai yang absurd. Mulai dari jalur langit, jalur darat, jalur udara semua kucoba. Kelas Magnet Jodoh, TRE, ALT, kelas menulis aku ikuti. Ternyata kelasMagnet Jodoh yang aku ikuti lebih banyak bicara soal memperbaiki diri. Kelas Magnet Jodoh ini akhirnya berkembang menjadi Trulav dan dari situ aku berkenalan dengan para single yang high quality. Dari situ muncullah komunitas Growing Girls yang anehnya sebagian besar bukan girls lagi dan sampai akhirnya aku berlabuh di komunitas Ruang Bertumbuh yang diinisiasi oleh Kak Fawzia Hanum.
Komunitas ini sebagian besar beranggotakan para single mom atau para janda high quality yang sudah paham dan khatam tentang liku-liku menjalani toxic marriage.
Dari mereka aku belajar banyak. Tentang bertahan, tentang luka, tentang keberanian. Pelajaran hidup yang tak pernah diajarkan di bangku sekolah. Dari mereka, aku belajar agar tidak mengulang kesalahan yang sama.
Memutuskan untuk Menikah
Tahun 2023, satu per satu orang tercinta pulang ke pangkuan Ilahi mulai dari ibu, kakak, disusul ipar dan adik. Sejak itu, keinginan menikah tak lagi sekadar pertanyaan, tapi keputusan. Aku ingin punya teman berbagi. Tak ada pasangan yang sempurna. Justru ketidaksempurnaan itulah yang sering menyempurnakan hidup.
Aku mulai berdandan. Bukan demi siapa-siapa, tapi karena ternyata rapi dan cantik bisa menumbuhkan percaya diri. Aku belajar berbicara lebih terbuka, berinteraksi lebih hangat. Semua butuh proses.
Dan untuk para pemilik mulut nyinyir, aku tetap baik-baik saja. Hidupku utuh. Langkahku tenang. Tenang saja, I always step a head from you all. Telat menikah bukan aib. Yang aib itu hidup tanpa kesadaran—lalu merasa berhak mengatur hidup orang lain.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Gopay
081219679565
