Kontributor : Nna Sora
SisteRB, jujur deh… kalau ada yang tiba-tiba ngajakin taaruf, biasanya responsmu apa?
Senang? Kaget? Heran? Atau malah langsung parno?
.
.
Nyatanya, aku pernah ada di posisi itu.
“Fa, ada yang mau taaruf sama kamu.”
Biasanya aku tipe yang terbuka dan bilang, “Monggo”. Tapi kali ini aku dengan tegas menjawab, “Makasih niat baiknya, tapi aku tidak berminat.”
Langsung. Tanpa drama.
Padahal ya, aku belum kenal dekat orangnya. Tapi bukan berarti aku buta sama sekali—kami satu lingkup kuliah, aku tahu dia siapa.
Dan tentu saja… beberapa hari kemudian, muncul suara kecil di kepala, “Kalau itu orang terakhir yang mau kenalan sama aku gimana? Aku nolak mentah-mentah gitu aja?”
Lalu aku langsung negur diri sendiri, “Anna, please deh! Jangan cuma karena lagi haus, racun pun kamu tenggak.”
Ini bukan soal sok jual mahal, SisteRB. Ini soal berani jujur sama diri sendiri.
Menolak Itu Bukan Anti Nikah, Tapi Anti Maksa Diri
Gak kebayang aja kalau saat itu aku meng-iya-kan taaruf padahal hatiku udah nggak sreg. Bisa jadi aku cuma terjebak FOMO sesaat. Dan ujung-ujungnya? Mengulang pola relasi yang sama.
Kalau memang nggak suka, yaudah. Nggak perlu nekat lompat ke tebing curam cuma demi status. Nggak lucu juga kan, kalau di awal aja sudah memaksa diri, lalu di tengah jalan harus makan asam-garam sendirian?
Tapi dipikir-pikir ya kepikiran, keberanian menolak itu ternyata bukan muncul tiba-tiba. Ada proses panjang yang membentuk pola pikirku sampai di titik itu. Dan salah satu pemicunya datang tepat keesokan harinya.
Buku dan Jawaban atas Kemantapan Hati
Siang itu, paket Buku Bukan Janda Biasa jilid 2 sampai di tanganku.
Kubaca sampai habis 2 hari lamanya… Dengan mata bengkak karena nangis bombai di hampir setiap kisah penulis BJB2.
Di tengah bacaan, aku bergumam sendiri, “Kaaan.. dibilang… apa yang tidak kita mau tuh tidak perlu kita paksa.”
Seolah buku ini jadi jawaban halus dari Tuhan atas keputusanku menolak taaruf kemarin. Bukan pembenaran, tapi penguatan nih, SisteRB.
Dan di titik itu aku makin sadar, menjaga pola pikir itu jauh lebih penting daripada sekadar menjaga peluang.
Gadis Gabung Komunitas Janda, Ngapain?
Mungkin ada yang mikir, “Lah, kamu kan belum menikah. Ngapain gabung komunitas janda?”
Jawabannya sederhana: belajar dari pengalaman nyata.
Awalnya aku tertarik gabung Komunitas Janda Ruang Bertumbuh karena ikut webinar Kak Paw (founder Ruang Bertumbuh) tentang cara memilih pria yang tepat. Dan jujur, materinya nampol.
Kami diajak belajar menghitung poin masing-masing kriteria kenalan kita.
“Hah, hitung?”
Iya, SisteRB, kamu gak salah baca.
Jadi gak zaman lagi tuh namanya ilmu wangsinawang “Inikah jodohku?”
Tapi benar-benar dikalkulasikan mulai dari nilai, karakter, cara komunikasi, manner, sampai kecocokan visi hidup. Dari situ aku mulai paham—oh, ternyata selama ini aku belum benar-benar kenal ‘apa yang aku butuhkan’, bukan cuma apa yang aku inginkan.
Dan fondasi terpentingnya bukan di calon pasangan… tapi di ‘mengenali diri sendiri’.
Pola Pikir yang Berubah: Dari Takut Kehilangan ke Tenang Memilih
Seiring proses itu, aku juga sadar kalau menentukan kriteria bukan berarti mempersempit pergaulan.
Justru sebaliknya, SisteRB. Perluas pergaulan berkualitas. Biar circle nggak monoton dan pikiran nggak sempit.
Ditolak satu? Ya sudah.
Mana tau kan ditolak satu, muncul seratus ribu —bukan nominal uang ya, SisteRB 😄 tapi peluang bertemu orang yang lebih tepat.
Di komunitas ini juga ada diskusi, sharing, saling support, dan program self-upgrade lain. Bahkan cuma jadi silent reader pun, wawasanku soal relationship dan pola pikir ikut bertambah.
Pelan-pelan, aku jadi perempuan yang nggak gampang FOMO nikah.
Gabung Komunitas Janda Justru Bikin Gak FOMO Nikah
Keberanian menolak taaruf kemarin itu lahir karena satu pemikiran, “Aku tidak lagi mengejar status, tapi kesadaran memilih.”
Dan jujur, mental seperti itu mungkin belum kumiliki kalau aku belum belajar dari para janda dan mantan janda—yang sudah lebih dulu melewati realita pernikahan, bukan cuma persepsi aja.
Jadi jangan salah paham, SisteRB.
Gabung komunitas janda bukan mengglorifikasi pernikahan, tapi memberi ruang perempuan untuk berdaya. Mau single, mau janda, mau menikah—semuanya sah. Sesuai mottonya Happily Single or Happily Married.
Dan dari situ aku belajar satu hal penting bahwa menolak dengan sadar jauh lebih sehat daripada menerima karena takut dikata masih sendirian.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via OVO
Ulfa An Naafi : 08986447874
