Kontributor : Sarah Cikal Annisa Utama
Belakangan ini aku sedang merasa sepi dan lelah, rasanya aku butuh seseorang untuk aku bercerita tentang keluh kesah keseharianku dan mungkin butuh seseorang yang bisa meringankan segala beban yang ada ini. Hingga akhirnya aku mencoba untuk meng-install aplikasi dating di handphoneku. Tapi rasanya bukan ini aku yang cari, aku tidak bersemangat bertemu dengan orang-orang baru ini, aku masih merasa hampa. Aku mencoba mencari kesibukan lain, belajar hal-hal baru, berinteraksi dengan tetangga, hingga bertemu orang-orang baru secara langsung. Seakan melawan apa yang aku takutkan beberapa waktu belakangan ini. Iya, aku seakan ingin menghilang saja sebelumnya, kepercayaan diriku runtuh.
Di malam ke-17 Ramadhan ini aku tarawih bersama anak-anak di masjid. Tak banyak jamaah saat itu karena hujan dan angin cukup kencang. Namun hal itu entah kenapa tak menghalangi kami untuk tetap berangkat ke masjid. Saat di masjid sang Imam membacakan potongan surah Ar-Rahman pada setiap rakaat shalat tarawih entah kenapa hati ini terasa sangat hangat sekali mendengarnya. Bahkan hingga tadi saat bangun sahur ku dengar sayup surah Ar-Rahman dibacakan melalui pengeras suara dari masjid. Ya Allah, entah kenapa ada kerinduan dan hangat sekali saat mendengar surah ini. Hingga selepas sholat subuh ku baca sambal terisak memaknai setiap ayat Surah Ar-Rahman yang indah ini.
Mencari seseorang untuk menghibur di dating app namun masih membuatku terasa hampa seakan Allah berbisik ”Bukan di sana tempatmu menemukan tenang”. Hingga Ia meringankan langkahku ke masjid dan mengatur sang Imam membacakan Surah Ar-Rahman, surat yang berarti Maha Pengasih, sebuah deklarasi kasih sayang. Seakan lantunan lembut potongan ayat yang dibacakan sang Imam adalah cara Allah menyapaku “Aku di sini, Aku memperhatikanmu”. Bahkan terbangun sahur Allah kembali mengirim “pesan” yang sama, seolah Dia ingin memastikan bahwa aku tidak memulai hari dengan perasaan sendirian.
Ya Allah, romatisnya Engkau. Kau benar-benar kekasih yang tak pernah mengabaikan. Bahkan aku tercekat saat membaca surah Ar-Rahman di ayat 60. Kau seakan menjagaku, karena rasanya tak ada dendam yang kau tanam di hatiku kepada orang-orang pernah memberi luka. Aku tetap mencoba menjaga silaturahmi dan bersikap baik, meskipun orang bilang sikapku seperti merendahkan harga diriku. Aku yakin ini adalah bentuk penjagaanMu, Kau ingin aku tetap menjadi pribadi yang indah di mataMu. Apa yang sudah aku lakukan sejauh ini tidak akan pernah sia-sia, hal yang diluar kendali biarlah itu menjadi urusannya.
Bisa jadi kesepian yang aku rasakan kemarin sebenarnya adalah “ruang kosong” yang Allah ciptakan agar aku yakin bahwa memang hanya Allah yang bisa mengisinya. Pasangan bisa saja lupa atau bosan dengan kita, tapi Allah? Dia bahkan mendengar apa yang tidak sanggup kita ucapkan.
Cukup, aku sudah tidak butuh validasi untuk merasa berarti. Aku sudah cukup berarti. Aku selalu berhusnudzon, langit tidak selamanya mendung dan Allah sedang mempersiapkan “hadiah” yang setara dengan kebaikan yang selama ini aku tanam. Aku tidak sendiri, aku sedang dijaga oleh yang Maha Hebat.