Kontributor : Deli Safithri
Saat itu datang badai besar menimpa rumah tanggaku yang selama ini aku kira aman,
nyatanya aman itu hanya dipikiran dan hatiku saja. Lamanya membina rumah tangga yang hampir genap 10 tahun, tidak bisa mengokohkan rumah yang aku anggap aman itu. Ketika badai itu datang, rumah itu pun hanyut terbawa badai hanya bersisa puing-puing reruntuhan. Seketika itu aku menghampiri reruntuhan itu sambil berkata bagaimana hidupku sekarang. Terlalu banyak sekali pertanyaan lalu lalang, terkadang bahkan sering kali terlintas pertanyaan, apa kurangnya aku? aku salah apa? Hal itu semua membuat kepercayaan diriku hilang seketika.
Hidup pun mulai terasa hampa, sepi, tidak ada tempat berbagi cerita, setiap malam datang air mata pun mengikuti. Beberapa bulan berlalu, aku yang masih larut dalam kesedihan. Ketika aku membuka beranda IG muncul iklan trauma healing grup, dimana disitu mereka mempromosikan bahwa untuk healing bisa tanpa bercerita masalahnya apa dan ada prakteknya untuk meregulasi emosi.
Akhirnya aku tertarik untuk mengikutinya dan mencoba menghubungi kontak person panitia acara tersebut. Setelah menemukan jadwal yang cocok dan melakukan pembayaran, aku pun tersadar akhirnya aku mulai berani beranjak pulih. Tiba waktunya trauma healing pun mulai. Saat tiba dilokasi, disalah satu ballroom hotel, ternyata kuota full saat itu saya kebagian sesi 2 setelah Dzuhur, semua yang datang wanita, ternyata saya tidak sendiri banyak diluaran sana yang berjuang juga untuk mengobati luka yang tak berwujud ini.
Awal mula semua terlihat baik-baik saja saling senyum, setelah pemaparan materi, tibalah praktek trauma healing tersebut. Pertama-tama kita dimintakan untuk menuliskan rasa tidak enak atau luka apa saja yang kita rasakan, sebanyak 10 luka. Mulailah masing-masing luka diberikan skor dari skala 1 sampai 10, berdasarkan rasa sakit yang dirasakan. Dipilihlah satu luka yang paling tinggi skornya dan yang ingin disembuhkan. Kemudian mulai lah kita ikuti langkah-langkahnya, mulai dari ada kata-kata seperti script berupa doa dan afirmasi, kemudian melakukan tapping di titik meridian dibagian tubuh yang telah di tentukan, mulai dari kepala badan sampai ke tangan. Teknik trauma healing itu disebut SEFT.
Pengajar merupakan kak Anisa yang merupakan seorang terapis EFT dan SEFT dan certified hypnotherapist. Suasana berubah dari yg tadinya hening hanya instruksi dari kak Anisa, lama kelamaan mulai terdengar tangisan, bahkan ada yang sampai ada yang muntah, dan akupun merasakan yang awalnya sesak di dada. Akupun lama-lama fokus pada diri sendiri dan tak terasa air mata pun menetes. Tak sampai disitu tidak terasa akhirnya aku menangis kencang sampai tidak peduli sekitar sambil terus melakukan teknik SEFT yang diinstruksikan terapis. Ternyata reaksi tubuh setiap orang berbeda hal tersebut merupakan efek dari energi dari rasa sakit yang dikeluarkan tubuh. Tidak terasa tiba diakhir step SEFT ada istilah “prosedur gamut” yang perlu diikuti. Dan sesi praktek SEFT pun selesai. Setelah selesai saya merasa lega, mungkin karena telah mengeluarkan energi dari rasa sakit tersebut. Kami pun dimintakan untuk memberikan skor atas rasa sakit yang sebelumnya sudah dilakukan proses SEFT dari 9 menjadi 7. Skor 2 merupakan skor aman bahwa rasa sakit itu sudah tidak menjadi trauma lagi.
Walaupun masih belum tuntas namun langkah – langsung tersebut bisa kita ulangi dirumah, karena masih banyak luka-luka lainnya yang perlu dipulihkan. Dan akupun mempraktekkan kembali sampai beberapa trauma pun Alhamdulillah sudah pulih, hati menjadi plong dan overthinking pun hilang. Walaupun untuk memulihkan perlu dilakukan SEFT berulang kali, tapi tak mengapa karena usaha itu insyaallah ada hasilnya.
Yang aku senangi setelah mengiku trauma healing SEFT ini kita dapat melakukan self healing mandiri. Sehingga ilmu yang didapatkan akan bermanfaat dalam jangka panjang, karena mungkin saja masih ada luka-luka lain atau bahkan luka baru yang muncul seiiring berjalannya kehidupan kita. Yang terpenting adalah kita tahu bagaimana cara melepaskan trauma tersebut secara mandiri dan lebih baik lagi apabila didampingi oleh tenaga professional. Karena hidup akan lebih berkualitas apabila tidak membebani masa kini dan masa depan dengan luka trauma dimasa lalu.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via