Kontributor : Alicia Nugroho
Aku tidak pernah bercita-cita menjadi seorang ibu.
Bukan karena aku benci anak-anak. Bukan juga karena protesku kepada dunia yang saat ini menurutku tidak lagi ramah pada anak-anak. Namun, keputusan tersebut kuambil karena sejak lama aku tahu, bahwa melahirkan bukan satu-satunya cara untuk bertumbuh sebagai perempuan. Aku juga tahu bahwa menjadi dewasa bukan soal umur, melainkan soal tanggung jawab yang kita pilih dengan kesadaran penuh dan mata terbuka.
Sampai akhirnya hidup, dan tentunya takdir Tuhan, dengan selera humornya yang sarkas sekaligus tepat sasaran, memperkenalkanku pada sebuah peran yang tak pernah aku rencanakan sebelumnya: menjadi βibuβ bagi keponakanku sendiri.
Namanya Ila. Ibunya menyerahkannya kepadaku dan mamaku tepat setelah ia lahir. Ayahnya, adik laki-lakiku, harus bekerja di Paris, sang Kota Cahaya, sebagai pastry chef, demi mengejar hidup yang layak dengan jam kerja yang tidak bersahabat dengan mengurus bayi. Maka Ila datang ke hidupku bukan sebagai korban keadaan, tetapi sebagai manusia kecil yang butuh pengasuhan. Melalui proses panjang di Pengadilan Agama, aku pun ditetapkan sebagai Wali bagi Ila, sesuai dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 50 ayat (1) dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak.
Aku ingin meluruskan pandangan yang seringkali orang salah pahami mengenai adopsi anak. Mereka beranggapan kalau mengadopsi anak berarti menyelamatkan anak tersebut. Untukku, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Dalam kasusku, hubunganku dengan Ila justru bersifat mutualisme. Ila memang membutuhkan figur dewasa yang hadir secara konsisten, tetapi aku, yang belakangan ini baru kusadari, juga sedang membutuhkan proses pendewasaan yang tidak bisa diajarkan oleh buku, seminar, atau sesi terapi panjang bersama Psikolog dan Psikiater.
Membesarkan anak yang tidak lahir dari rahimku memaksaku berhadapan dengan inner child-ku sendiri, dan membantunya untuk mendewasa dan pulih sepenuhnya.
Aku sadar kalau aku tidak sedang βmengulangβ masa kecilku lewat Ila. Aku justru belajar menghentikan pola asuh yang diajarkan orang tuaku, belajar ilmu parenting sekaligus mendewasakan diriku sendiri. Setiap kali Ila menangis, aku belajar menahan reaksi otomatis untuk menyuruhnya diam. Saat Ila marah, aku belajar bahwa amarah mengajarkan tentang sudut diri kita yang terlanggar dan mungkin mencoba melindungi diri kita sendiri. Lewat semua emosi Ila, aku belajar bahwa emosi bukan musuh yang harus dibungkam, melainkan bagian dari diri kita yang harus dimengerti dan didengarkan dengan sepenuh hati. Saat Ila bertanya hal-hal sederhana dengan logika polosnya, aku dipaksa menjawab dengan jujur, dan kejujuran itu sering kali lebih menantang daripada jawaban dewasa yang diplomatis. Seringkali, dari rasa ingin tahu khas anak-anak yang dimiliki Ila, aku malah belajar banyak hal baru.
Aku kemudian menyadari hal lain: Ila bertumbuh, dan aku juga.
Aku mendidiknya tentang welas asih, tentang kebaikan, tentang Nilai Tuhan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, tetapi melalui merawat Ila-lah aku juga belajar berbelas kasih pada diriku sendiri, pada bagian diriku yang dulu ingin dipahami, tetapi tidak selalu mendapatkan ruang. Aku mengajarinya kemandirian, sambil pelan-pelan melepaskan keyakinan lamaku bahwa perempuan harus selalu kuat sendirian tanpa mampu meminta bantuan.
Psikologi perkembangan menyebut ini earned secure attachment, keamanan emosional yang dibangun bukan dari masa kecil yang ideal, tetapi dari relasi yang sehat di kemudian hari (Roisman et al., 2002). Aku melihatnya terjadi secara nyata, bukan hanya sebagai teori, melainkan sebagai pengalaman hidup.
Hubungan kami bukan relasi sepihak. Aku tidak pernah kehilangan diriku selama membesarkannya. Justru aku menemukan versi diriku yang lebih utuh, lebih sadar, lebih bertanggung jawab terhadap kata, emosi, dan batasan. Sementara itu, Ila belajar menjadi perempuan yang welas asih sekaligus mandiri.
Saat ini, aku menyadari bahwa Tuhan mengirim Ila kepadaku agar aku belajar menjadi perempuan dewasa, tanpa harus melahirkan. Mungkin inilah pelajaran paling panjang sekaligus paling jujur yang pernah kujalani dalam hidupku.
Bahwa terkadang, kita tidak membesarkan anak untuk mengisi kekosongan hidup kita. Anak hadir untuk menantang kita agar melihat lebih dekat ke dalam diri kita sendiri, kemudian bertumbuh keluar menjadi versi yang lebih baik lagi. Bukan semata karena kewajiban, melainkan karena cinta yang dipilih dengan sadar.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via ovo
08567619061
