Kontributor : Nafis Amna
“Kullu nafsin ẓā`iqotul maut” setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Aku sudah tahu ayat ini sejak lama dari ceramah agama yg ku dengar, tapi nggak pernah menyangka bakal merasakannya langsung; kehilangan suamiku waktu pandemi.
Waktu itu, rasanya seperti jatuh kedalam jurang yg sangat dalam, terjebak dalam lorong yang panjang dan gelap, tanpa cahaya tanpa pegangan. Hari-hari kadang cuma berlalu begitu aja, dan aku cuma berusaha bertahan. Tapi aku sadar, sebagai orang yang beriman, aku harus menerima takdir ini dan berusaha menguatkan diri, bukan cuma bilang percaya tapi nggak ngerasainnya.
Mengikuti kajian agama, Yasin dan tahlil keluarga, khataman Al-Qur’an, atau sholawatan bantu banget menenangkan hati. Duduk bareng jamaah, baca doa dan dzikir, rasanya kayak dapat energi baru. Pelan-pelan, hati mulai terasa ringan dan muncul harapan baru buat hidup selanjutnya.
Pengajian juga bikin aku sadar, upgrade diri nggak harus dari hal besar. Istiqomah dalam ibadah dan dzikir bisa mulai ngebantu banget. Aku belajar, spiritual growth bukan soal seberapa banyak yang kita capai, tapi seberapa sadar kita jalani hidup, terima takdir, dan perkuat diri lewat iman.
Majelis pengajian buat aku bukan cuma rutinitas. Ini cara menenangkan hati, nge-charge energi spiritual, dan ngerasa ada harapan baru buat kehidupan selanjutnya. Pelan-pelan, aku mulai bisa melangkah lagi dengan hati lebih kuat dan sadar.
Kini aku tersadar duniaku tak sehancur itu, langit ku belum runtuh, masih ada cahaya yg menunggu diujung jalan sana, dan aku yakin aku masih punya masa depan
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank MANDIRI a.n. Nafis Amna 0060011117458
0060011117458
