Kontributor: Hara
Namaku sebut saja Hara ,usiaku baru saja 40 tahun memasuki penghujung tahun kemarin. Aku seorang single mom dengan kegiatan sehari hari bekerja sambil membersamai putri kecilku, tumbuh,belajar,bertanya,dan menemukan dunia dengan caranya sendiri.
Hari ini aku coba menengok kembali perjalanan panjang hidupku hingga sampai di titik ini. Tidak perlu usaha extra untuk mengingatnya. Bukan karena ingatan itu adalah memori dan emosi yang masih menempel seperti perangko di album koleksi filateliku waktu kecil atau seperti mawar merah indah namun berduri yang enggan kulepas, apalagi seperti hantu gentayangan yang terperangkap dan berteriak-teriak ingin keluar dari laci-laci pikiranku maupun dari relung hatiku yang paling dalam.
Justru sebaliknya..
Yang terasa kontras sekarang adalah: aku sudah bisa memaknainya dengan cara yang berbeda. Peristiwa-peristiwa itu tetap ada, tidak menguap, tidak berubah bentuk. Tapi posisiku terhadapnya berubah. Seolah jarak akhirnya tercipta cukup aman untuk melihat tanpa harus kembali terluka.
Kalau boleh jujur, mungkin perlu sticky note berstabilo tebal meminjam istilah masa kuliah dulu untuk menuliskan dengan lantang “Yaa..aku sudah bisaaa. ( mengambil hikmahnya,melepaskan beban yang bukan lagi milikku. Memulai kehidupan baru) !!” Dan bagiku itu adalah sebuah pencapaian yang patut dirayakan. Maka aku mulai belajar membanjiri diriku sendiri dengan self care. Sebuah istilah yang dulu terdengar asing bahkan terasa mewah. Kini ia menjadi akrab sejak aku bergabung dengan sebuah komunitas perempuan yang cukup bergengsi yang menyadarkanku akan satu hal penting: bahwa relationship yang sehat itu perlu ilmu yang benar dan tidak ada yang mustahil selama kita mengusahakannya dengan cara yang benar.
Kalau bicara soal ilmu, tarik nafas dulu yang panjang. Sambil nyelam minum es kelapa mudaa!! Rasanya baru kemarin lolos dari lubang jarum, sekarang justru sedang belajar ilmu hidup yang sesungguhnya….Ya Rabb, kuatkan jiwa ragakuuu…
Semua butuh waktu. Waktu akan menyembuhkanmu. Sering kudengar petuah itu, dari orang-orang yang kukenal, juga dari potongan medsos yang berlomba-lomba mengemas self healing dalam rupa bentuk paling cantik dan menjual. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Tapi sebagai manusia yang dikaruniai akal aku belajar menyaring. Apa yang benar-benar kubutuhkan dan apa yang sekedar terdengar indah. Anehnya kalimat-kalimat sederhana di atas tadi kini seperti terpatri di pikiranku dan mulai menjelma menjadi dasar dari setiap keputusan yang kuambil akhir-akhir ini. Di titik ini, aku tidak lagi menuntut hidup untuk segera baik-baik saja. Aku tidak lagi tergesa. Untuk pertama kalinya, waktu tidak terasa mengejarku.
Ia berhenti.
Ia menoleh.
Dan entah bagaimana caranya ia akhirnya belajar mengenal namaku.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Gopay 081573012525 an. F.F.Maharani
081573012525
