Kontributor : Nufus Afitria
Ada pagi-pagi tertentu ketika aku duduk diam di tepi ranjang, menatap cahaya matahari yang masuk setengah-setengah dari celah jendela. Udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah dadaku memikul sesuatu yang tak terlihat. Sunyi di rumah ini bukan sekadar ketiadaan suara, tapi ia hadir seperti tangan dingin yang menyentuh punggung, pelan tapi nyata. Di kepalaku, pikiran berisik seperti radio rusak yang tak bisa dimatikan, memutar ulang pertanyaan lama tentang masa depan dan harga diriku sebagai perempuan.
Menjadi janda sering kali tidak hanya mengubah status, tapi juga cara pikiran bekerja. Ada hari-hari ketika pikiranku berubah menjadi medan perang, antara ingin kuat dan ingin menyerah, antara merasa cukup dan merasa tertinggal. Aku menyadari, luka terbesarku bukan selalu berasal dari masa lalu, melainkan dari caraku terus-menerus menghakimi diri sendiri. Seolah ada suara di dalam kepala yang gemar berbisik, “Seharusnya kamu lebih baik dari ini.”
Aku mulai memperhatikan tubuhku. Bagaimana napasku sering pendek saat pikiran berlarian, bagaimana rahangku mengeras ketika ingatan tertentu muncul tanpa izin. Dari situ aku belajar satu hal sederhana namun penting: pikiranku tidak selalu berkata benar, tapi tubuhku selalu jujur. Saat aku lelah berpura-pura kuat, tubuhku yang pertama kali menyerah. Saat aku terlalu keras pada diri sendiri, tubuhku yang paling dulu memikul bebannya.
Perlahan, aku belajar berhenti melawan pikiranku. Bukan dengan mengusirnya, tapi dengan duduk bersamanya. Aku membiarkan kecemasan hadir tanpa harus dituruti, seperti awan gelap yang lewat di langit dan mengganggu pandangan, tapi tidak selamanya tinggal. Aku belajar mengganti kalimat di kepalaku, dari yang menusuk menjadi yang menenangkan. Dari “aku gagal” menjadi “aku sedang belajar.”
Upgrade mental bagiku bukan tentang menjadi perempuan yang selalu tenang, tapi tentang menjadi perempuan yang mau jujur pada dirinya sendiri. Aku berhenti menjadikan status sebagai beban, dan mulai melihatnya sebagai ruang. Ruang untuk menata ulang pikiranku, seperti taman yang sempat terbengkalai lalu dipenuhi rumput liar, tapi tetap punya tanah subur untuk ditanami kembali.
Kini, ketika pikiran lamaku datang mengetuk, aku tak lagi panik. Aku menyeduh teh hangat, merasakan uapnya menyentuh wajah, dan menarik napas lebih dalam. Aku tahu, aku tidak harus menaklukkan semuanya hari ini. Cukup hadir, cukup sadar, cukup berbaik hati pada diri sendiri. Dan dari situlah, pelan-pelan, ketenangan mulai menemukan jalannya pulang.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Ovo
085287957735
