Kontributor: Nufus Afitria
Ada satu fase dalam hidupku ketika doa-doaku terasa menggantung di udara. Aku tetap berdoa, tetap berharap, tapi hatiku seperti berdiri di ujung jurang, menunggu jawaban yang tak kunjung terdengar. Malam-malam kulalui dengan mata terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap, sambil bertanya pelan: apa yang sebenarnya Tuhan ingin aku pahami?
Di titik itu, spiritualitas bagiku masih identik dengan permintaan. Aku berdoa sambil menggenggam, berharap hidup berbelok sesuai rencanaku. Tanganku penuh dengan harapan, ekspektasi, dan ketakutan kehilangan. Tanpa kusadari, genggaman itu justru membuat dadaku sesak, seperti bernapas di ruangan sempit tanpa jendela.
Aku mulai lelah. Bukan lelah berdoa, tapi lelah mengatur hidup seolah aku tahu segalanya. Ada hari ketika aku duduk diam, mendengarkan hujan jatuh satu per satu di luar jendela. Suaranya ritmis, konsisten, dan entah kenapa menenangkan. Di sana aku sadar: hujan tidak pernah bertanya ke mana ia harus jatuh. Ia turun, selesai dengan tugasnya.
Kesadaran itu sederhana, tapi menghantam lembut. Aku mulai bertanya pada diriku sendiri, apakah selama ini aku benar-benar percaya, atau hanya ingin memastikan semuanya aman di tanganku? Spiritualitas yang kupeluk ternyata masih penuh kontrol. Aku ingin percaya, tapi dengan syarat.
Perlahan, aku belajar melepaskan. Bukan dalam bentuk keputusan besar, tapi dalam hal-hal kecil: berhenti memaksa jawaban datang cepat, berhenti menafsirkan setiap kejadian sebagai hukuman atau hadiah. Aku belajar duduk bersama ketidakpastian, merasakan lantai dingin di bawah kakiku, menarik napas lebih dalam, dan mengakui: aku tidak tahu, tapi aku mau berjalan.
Di sanalah kepasrahan berubah makna. Ia tidak lagi terasa seperti menyerah, melainkan seperti membuka tangan yang pegal karena terlalu lama menggenggam. Ada lega yang mengalir, seperti udara segar masuk ke paru-paru setelah lama tertahan. Hidup tidak langsung menjadi mudah, tapi terasa lebih jujur.
Keajaiban datang bukan dalam bentuk yang dramatis. Ia hadir pelan, nyaris tak terdengar dalam ketenangan yang baru, dalam keputusan yang terasa lebih ringan, dalam perasaan cukup meski keadaan belum sepenuhnya berubah. Aku tidak lagi sibuk menanyakan kapan, karena aku sibuk hadir di sekarang.
Hari ini, spiritualitas bagiku bukan tentang seberapa kuat aku meminta, tapi seberapa dalam aku berserah. Aku tidak lagi mengukur iman dari terkabulnya doa, melainkan dari kemampuanku tetap percaya saat jawabannya belum tiba. Dan di sanalah aku menemukan sesuatu yang tak pernah kudapat saat aku menggenggam terlalu erat: ketenangan.
Saat aku berhenti mengatur hidup, hidup mulai bergerak.
Tidak selalu ke arah yang kuinginkan, tapi ke arah yang kubutuhkan.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Ovo
![]() |
085287957735 |
