Kontributor : Nafis Amna
I lost the man I once shared my life with π, and life has never felt quite the same since.
Aku kehilangan suamiku. Sampai sekarang, kadang rasa itu masih datang tiba-tiba dan terasa menyesakkan. Setelah beliau pergi, banyak hal dalam hidup terasa berubah β ritme hari, cara memandang masa depan, bahkan cara aku memaknai kebahagiaan. Tapi justru di tengah kehilangan itu, Allah mengembalikan sesuatu yang tak pernah benar-benar kurencanakan: penglihatanku.
LASIK sebenarnya tidak pernah masuk dalam rencana hidupku. Aku tahu prosedur itu ada, bahkan diam-diam pernah bermimpi suatu hari bisa melakukannya. Tapi rasanya jauh. Biayanya tidak murah, sementara aku merasa masih banyak kebutuhan lain yang lebih prioritas. Jadi mimpi itu kusimpan saja β tanpa target, tanpa ekspektasi.
Sampai suatu hari jalannya terbuka lewat kakakku. Ia lebih dulu menjalani LASIK setelah mendapat informasi dari temannya yang bekerja di sebuah rumah sakit mata swasta ternama. Ada program khusus yang memungkinkan keluarga atau kerabat ikut mendapatkan kesempatan serupa. Setahun setelah ia menjalani prosedur itu, kakakku mulai menawariku kesempatan yang sama.
Awalnya aku menolak. Takut, tentu saja. Takut prosedurnya, takut efek sampingnya, takut kalau hasilnya tidak sesuai harapan. Tapi kakakku pelan-pelan meyakinkanku. Ia berbagi pengalaman, menjelaskan prosesnya, bahkan mengingatkanku bahwa kualitas hidup juga penting dijaga.
Setelah dua kali diyakinkan, akhirnya aku memberanikan diri. Dengan doa, sedikit nekat, dan harapan sederhana ingin hidup lebih nyaman, aku menjalani LASIK.
Dan ternyata⦠tidak seseram bayanganku.
Prosesnya relatif cepat, pemulihannya cukup lancar. Bangun tidur tanpa harus meraba kacamata, olahraga tanpa khawatir kacamata melorot, aktivitas sehari-hari terasa jauh lebih praktis. Banyak orang juga bilang aku terlihat lebih segar dan lebih percaya diri.
Aku sempat tersenyum sendiri. Biasanya aku lebih sering berobat dengan program jaminan kesehatan pemerintah. Kali ini aku merasakan suasana berbeda di rumah sakit swasta, dari pelayanan sampai fasilitasnya. Bukan soal mana lebih baik, tapi pengalaman ini membuatku semakin sadar bahwa rezeki dan kesempatan bisa datang dalam berbagai bentuk.
Saat duduk menunggu giliran, aku sempat berbisik dalam hati: semoga suatu saat aku benar-benar punya kemampuan untuk naik level dalam hidup β bukan sekadar merasakan sesaat, tapi benar-benar bertumbuh secara mental, spiritual, maupun finansial. Rasanya seperti sedang menanam harapan baru untuk masa depan.
Dari situ aku belajar: kadang Allah memberi pengalaman baru bukan untuk membuat kita merasa lebih tinggi, tapi untuk memperluas rasa syukur dan membuka cara pandang baru. Rezeki itu bentuknya macam-macam, termasuk kesempatan merasakan sesuatu yang dulu terasa jauh.
Kalau kupikir sekarang, perjalanan ini seperti simbol kecil dalam hidupku. Aku kehilangan seseorang yang sangat berarti, tapi Allah tetap memberiku nikmat lain β kesehatan, kesempatan memperbaiki kualitas hidup, dan cara baru memandang masa depan.β€οΈβπ©Ή
Aku jadi semakin percaya, ketika Allah sudah berkehendak, sesuatu yang terasa jauh bisa menjadi dekat. Seperti makna kun fayakunβ ketika Allah berkata βjadilahβ, maka jadilah. Dulu LASIK hanya mimpi kecil, bukan rencana. Tapi Allah punya cara sendiri menghadirkan nikmat itu di waktu yang tidak pernah kuduga.
Kehilangan memang tidak langsung menghapus luka. Rindu tetap ada. Tapi perlahan aku belajar melihat hidup lebih jernih β bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan hati. Bahwa di balik setiap ujian, selalu ada kebaikan yang Allah titipkan, dan selalu ada alasan untuk tetap bersyukur.π»π
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank MANDIRI a.n. Nafis Amna 0060011117458
Β 0060011117458
