Kontributor : Nufus Afitria
Belakangan ini, aku makin sering lihat pembahasan tentang self-love di mana-mana.
Sekilas terdengar empowering. Tapi kalau kita perhatikan lebih dalam… masih ada yang terasa bergeser.
Self-love sering dipersempit jadi sekadar “naikin value”, “biar makin dilirik”, atau “biar dapat pasangan yang lebih baik.”
Seolah mencintai diri sendiri itu strategi. Seolah healing itu alat tawar.
Padahal, di balik semua konten yang terlihat indah itu, masih banyak perempuan yang diam-diam tetap merasa kosong, tetap overthinking, dan tetap takut tidak dipilih.
Di titik inilah aku mulai gelisah…
Jangan-jangan, kita bukan sedang belajar mencintai diri.
Kita hanya sedang belajar terlihat kuat.
Tapi izinkan aku jujur ya…
Dulu, setiap kali mendengar kata self-love, yang terlintas di kepalaku adalah:
“Supaya nanti dapat pasangan yang lebih baik.”
Seolah-olah mencintai diri itu hanya strategi untuk menarik jodoh berkualitas.
Seolah-olah healing itu cuma jalan pintas menuju hubungan baru.
Sampai akhirnya aku sadar… pola pikir itu sendiri yang perlu disembuhkan.
Ketika Tidak Percaya Diri dan Takut Tidak Dipilih
Ada fase di mana aku tidak benar-benar percaya diri.
Bukan soal penampilan.
Tapi soal merasa cukup.
Aku sering bertanya dalam diam:
- Kenapa aku selalu menarik tipe pasangan yang sama?
- Kenapa aku sulit berkata tidak?
- Kenapa aku takut ditinggalkan, padahal jelas-jelas aku tidak bahagia?
Di titik itu, aku mulai menyadari sesuatu yang penting dalam perjalanan emotional healing perempuan: kadang kita tidak bisa menyembuhkan diri sendirian.
Dan di sinilah aku memutuskan melibatkan profesional.
Sebelum dan Sesudah Melibatkan Coach
Sebelum ikut workshop dan sesi bersama coach, aku mengira kesadaran cukup datang dari membaca buku atau merenung sendirian.
Ternyata tidak.
Seorang coach tidak memberi jawaban.
Ia memberi cermin.
Di situ aku belajar:
- mengenali luka inner child
- memahami pola trauma bonding
- menyadari bahwa kebutuhan diterima sering membuatku mengabaikan diri sendiri
- memeluk bagian diri yang selama ini kusembunyikan
Dan yang paling penting…
aku belajar bahwa self-love bukan tentang menaikkan value agar dipilih orang lain.
Self-love adalah keberanian menerima bahwa aku tetap berharga, bahkan ketika tidak ada yang memilihku.
Sesudah melibatkan profesional, bukan hidupku yang langsung berubah drastis.
Tapi caraku memandang diri berubah.
Dan itu mengubah semuanya.
Queen Energy Itu Lahir dari Kesadaran, Bukan Manipulasi
Dari workshop tentang feminine energy yang aku ikuti, ada satu hal yang menguatkan:
Energi perempuan yang utuh tidak lahir dari strategi.
Ia lahir dari kesadaran.
Queen energy bukan soal tampil high value.
Bukan juga soal bermain tarik-ulur agar dianggap mahal.
Ia muncul ketika kita:
- tahu kebutuhan kita
- jujur pada trauma kita
- tidak lagi menutupi luka dengan pencitraan
- dan berani berkata “ini aku”
Dan percaya atau tidak, saat kita benar-benar utuh…
energi itu terasa. Tanpa perlu diumumkan.
Ini Bukan Hanya Soal Jodoh
Banyak orang masuk ke proses healing karena ingin mendapatkan pasangan yang lebih baik. Bahkan berpikir agar hidupnya segera diselamatkan dengan adanya pasangan baru.
Tapi kalau boleh jujur…
proses ini jauh lebih dalam dari itu.
Ini tentang kembali ke pusat diri.
Tentang berhenti mencari validasi.
Tentang tidak lagi menggantungkan rasa aman pada kehadiran orang lain. Cukup hadirkan rasa aman itu dari diri kita sendiri, dengan begitu energi kita yang sudah ajeg akan terpancar dengan sendirinya.
Dan mungkin, setelah itu:
- karier yang melesat
- relasi yang lebih sehat
- atau jodoh yang datang
Tapi itu bonus.
Tugas kita hanya satu:
terus bertumbuh dengan sadar.
Karena ketika kita utuh, semesta tidak perlu dikejar.
Ia akan menyesuaikan.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Ovo
085287957735
