Kontributor : Nafis Amna
“Barang siapa menapaki suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Hadits ini terasa semakin relevan dalam perjalanan hidupku belakangan ini. Dulu mungkin aku termasuk yang santai soal belajar agama. Bukan tidak peduli, tapi merasa “nanti saja”. Justru sekarang, ketika usia bertambah dan pengalaman hidup semakin membentuk diri, muncul dorongan kuat untuk lebih serius menapaki jalan ilmu — terutama ilmu agama.
Kadang jalannya terasa ringan, kadang menuntut keberanian keluar dari zona nyaman. Di situlah proses bertumbuh dimulai.
Aku mulai memberanikan diri ikut kajian di tempat yang berbeda dari biasanya. Jika dulu kajian hanya di sekitar lingkungan rumah, kini aku mencoba suasana baru, bahkan sampai ke Jakarta Selatan. Awalnya sempat muncul rasa minder. Lingkungannya berbeda, suasananya terasa lebih modern, jamaahnya beragam. Tapi setelah dijalani, perasaan itu berubah menjadi rasa syukur. Ternyata aku bisa menyesuaikan diri. Tidak harus menjadi orang lain, cukup menjadi diri sendiri yang mau terus belajar.
Kajian seperti ini membuka ruang sosial baru bagiku. Bertemu orang-orang dengan latar belakang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: memperbaiki diri. Rasanya hangat, netral, dan profesional. Belajar tanpa tekanan sosial, tanpa ekspektasi berlebihan dari lingkungan yang sudah mengenal kita.
Salah satu kajian yang cukup membekas adalah kajian tentang sholat yang disampaikan oleh Ustadzah Qatrunnada Syathiry, Lc.. Karena masih di awal tahun, pembahasannya dikaitkan dengan resolusi spiritual. Cara beliau menyampaikan materi terasa tenang, tegas, dan lugas. Tidak berlebihan, namun tetap mengena. Sosoknya cantik dan cerdas, berasal dari keluarga ulama Betawi yang dikenal luas. Keilmuannya terasa matang. Outfit yang dikenakan sederhana, tetapi tampak berkualitas dan elegan. Wibawanya hadir tanpa dibuat-buat.
Suasana kajian waktu itu pun terasa hidup. Tempatnya nyaman, diskusinya mengalir, dan atmosfernya adem. Tidak terasa seperti sekadar mendengar ceramah, tetapi seperti diajak merenung bersama. Ada ketenangan, sekaligus dorongan halus untuk memperbaiki diri.
Pesan yang paling membekas adalah tentang pentingnya menjaga sholat, bukan sekadar menunaikannya. Sholat bukan hanya rutinitas lima waktu, tetapi kebutuhan jiwa.
Aku semakin sadar bahwa sholat adalah rukun Islam kedua — pondasi penting setelah syahadat. Bahkan sering disebut sebagai tiang agama. Jika sholat kokoh, insyaAllah ibadah lainnya ikut terjaga. Namun jika mulai lalai, biasanya perlahan berdampak pada aspek kehidupan yang lain. Menjaga sholat sejatinya adalah menjaga fondasi hidup kita sendiri.
Dalam Al-Qur’an juga diingatkan:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
Ayat ini seperti cermin. Jika sholat sudah rutin tetapi hati masih gelisah, emosi masih mudah terpancing, atau perilaku belum banyak berubah, mungkin yang perlu diperbaiki bukan jumlahnya — melainkan kekhusyuannya. Menghadirkan hati, memahami bacaan, dan menyadari bahwa kita sedang berdiri menghadap Allah.
Aku juga memahami bahwa menuntut ilmu agama hukumnya fardhu ‘ain — kewajiban setiap muslim. Kita perlu belajar agar ibadah benar, akhlak terjaga, dan hidup memiliki arah. Tidak harus langsung sempurna. Yang penting mau melangkah dan terus memperbaiki diri.
Perjalanan ini tentu belum selesai. Kadang masih ada rasa malas, minder, atau ragu. Tapi setiap kali mengingat tujuan akhirnya — ridha Allah dan kehidupan yang lebih baik — rasanya langkah kecil ini layak diteruskan.
Mungkin inilah makna bertumbuh: berani keluar dari nyaman, tetap rendah hati untuk belajar, dan percaya bahwa setiap langkah menuju ilmu tidak pernah sia-sia. Karena sejatinya, kita semua sedang berjalan — hanya arah dan kesungguhan yang membedakan. Dan selama kita masih mau melangkah, semoga Allah terus menuntun langkah itu ke arah yang lebih baik.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank MANDIRI a.n. Nafis Amna 0060011117458
0060011117458
