Kontributor : Syamsa Hawa
Bercerai = Spiritual Awakening For Me
“Perceraian awal pertumbuhan spiritual? Ah, yang bener Shin?”
Yap, kalau yang aku alami sih perceraian bukan kegagalan iman yaa, justru sebaliknya… aku akhirnya berhasil menjalankan firman Tuhan di dalam Al Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar Ra’d: 11)
Ya, perceraianku adalah pernyataan sikapku pada Tuhan Semesta Alam bahwa aku sudah berubah. Aku, yang dulunya seorang people pleasure, yang gak enakan, yang gak bisa bikin batasan, yang udah diinjak-injak harga diri pun masih bisa senyum, sekarang sudah berubah.
Dengan gagah berani aku keluar dari neraka dunia bernama pernikahan toksik #tepuktanganbergemuruh
Toxic Marriage Itu Obat?
Begini Sis, toxic marriage itu sebenarnya menimpa kita bukan tanpa alasan lho, sebenarnya ada suatu pola yang salah pada diri kita terdahulu sehingga kita dipertemukan semesta dengan pasangan yang juga punya sifat toxic, bahasa gampangnya kita nikah sama orang toxic yaa karena kita sendiri juga toxic gitu loh.
Kan ada tuh ayatnya, perempuan baik untuk laki-laki baik… lha kalau kita ketemunya sama yang nggak baik? Sangat mungkin ada hal tidak baik dalam diri kita.
Bisa jadi pola pikir kita yang toxic, atau ada trauma pengasuhan, atau ada kebencian pada orangtua, atau ada niat pernikahan yang kurang lurus, atau suatu pola buruk yang diwariskan dari gen orangtua, dllsb, entah apa itu… intinya kita punya pola toksik yang memang perlu diubah.
Sama kayak Matematika: ( – ) × ( – )= + , atau secara medis, obat untuk gigitan ular berbisa adalah antivenom (anti-bisa) yang justru dibuat dari bisa ular juga. Begitulah alam semesta mempertemukan kita dengan pasangan toxic untuk menghilangkan pola toxic yang ada dalam DNA kita.
Nah, kalau kita memahami hal ini, maka… berani menghadapi toxic marriage dengan mengubah diri sendiri sama dengan berjihad lho.
Jihad Terbesar = ‘Melawan’ Diri Sendiri
Sista, cerai itu bukan sekadar “lepas dari suami”, tetapi lepas dari luka, pola lama, dan keyakinan yang keliru tentang diri sendiri dan tentang Tuhan, jadi… ini sesuatu yang deep banget.
1. Benarkah Toxic Marriage adalah Takdir Tuhan? Atau Ada Faktor Kesalahan Kita?
Banyak yang ngomong, “Ini adalah takdir Tuhan.”
Kalimat itu nggak enak banget ya didengernya. Tanla sadar kita nyalahin Tuhan lhoo. Seolah kita nggak punya peran apa pun, kita cuma wayang di tangan dalang.
Hey hooo…
Takdir memang ada.
Tetapi pilihan juga ada, Sis. Tuhan nggak ngeborgol tangan dan kaki kita, kita bisa pergi!
Kita emang nggak pernah berharap masuk ke pernikahan dengan niat akan disakiti, atau menderita, tapi akui aja… bisa jadi ada faktor yang luput kita sadari:
■ Mengabaikan red flag sebelum nikah
■ Enggan bahas hal penting sebelum nikah, seperti masalah finansial, visi misi, manajemen konflik, dll
■ Mengira sabar berarti diam
■ Terlalu ingin menyelamatkan orang lain sampai lupa menyelamatkan diri sendiri
■ Tidak mengenal batas sehat dalam relasi
Apakah itu berarti semua salah kita? Yaa nggak juga.
Tetapi mungkin ada pola dalam diri kita yang perlu disembuhkan.
Dan itu bukan untuk disesali, melainkan untuk disadari lalu dipelajari.
Nah, spiritual growth dimulai ketika kita berhenti menyalahkan takdir… dan mulai bertanya, “Apa yang bisa aku perbaiki dalam diriku?”
2. Masuk dalam Toxic Marriage Bukan Kesalahan Kita. Tidak Berupaya Keluar adalah Tanggung Jawab Kita.
Banyak korban toxic marriage merasa bersalah.
Seolah mereka bodoh karena memilih orang yang salah. Padahal, manipulasi, gaslighting, dan ketimpangan relasi memang sering banget nggaj kelihatan jelas di awal.
Masuk dalam toxic marriage bukan sepenuhnya kesalahan kita, Sista. Itu ibarat ‘cermin’ yang harus kita perhatikan agar bisa mengenali pola toksik dalam diri kita sendiri.
Tetapi ketika kita sudah sadar bahwa:
Kita diremehkan terus-menerus
Perasaan kita dianggap drama
Tubuh kita mulai sakit karena stres
Anak-anak ikut terdampak
Lalu kita tetap memilih bertahan tanpa ikhtiar apa pun… baru di situlah tanggung jawab pribadi mulai berbicara.
Tanggung jawab bukan berarti harus langsung cerai.
Tetapi seenggaknya:
Mengakui bahwa ini tuh nggak sehat
Mencari bantuan
Menguatkan diri secara finansial dan mental
Berani membuat batas
Dalam Islam, pernikahan adalah mitsaqan ghalizha (perjanjian yang kuat). Tapi bukan dimaksudkan jadi penjara, apalagi neraka dunia.
Allah membolehkan perceraian ketika pernikahan udah bawa mudarat yang berkepanjangan. Bahkan dalam fiqh, ada konsep khulu’—hak istri untuk meminta berpisah jika tidak lagi mampu menjalani pernikahan dengan sehat.
Artinya, agama aja nggak maksa kita untuk tinggal di tempat yang merusak jiwa lho. Ada pilihan GUGAT CERAI, bahkan kata talak (cerai) itu sendiri diabadikan jadi salah satu nama surah di Al Qur’an.
3. Tuhan Tidak Diam: Dia Memberi Sinyal dan Alarm Bahaya
Mungkin kita pernah mikir, “Kenapa sih Tuhan diam lihat kita diperlakukan gak adil?”
Padahal Tuhan pasti sudah berbicara—melalui tubuh kita.
Tubuh nggak pernah berbohong, Sis.
Sesak dada.
Migrain berkepanjangan.
Asam lambung kambuh terus.
Stres.
Depresi.
Anak sering sakit tanpa sebab jelas.
Keuangan tak kunjung membaik walau sudah berusaha.
Bisa jadi itu bukan sekadar “ujian biasa”.
Bisa jadi itu alarm alias sinyal dari Tuhan, bahwa ada sesuatu yang nggak beres, kamu harus lakukan sesuatu!
Tuhan menciptakan tubuh dan hati sebagai kompas.
Ketika kita terus-menerus merasa tidak aman dalam rumah sendiri, itu bukan hal kecil.
Dalam banyak kisah kehidupan, penderitaan yang terlalu lama sering bukan karena Tuhan kejam, tetapi karena kita menolak mendengar sinyal yang sudah berulang kali diberikan.
Spiritual growth after divorce sering kali membuat seseorang berkata:
“Ya Allah, ternyata Engkau tidak pernah meninggalkanku. Aku saja yang terlalu takut untuk melangkah.”
Kadang Tuhan tidak langsung mengangkat kita dari badai.
Tapi Dia memberi keberanian untuk berjalan keluar dari badai itu.
4. Apa Hukumnya Bersabar atau Menoleransi di Toxic Marriage?
Ini pertanyaan yang sering membuat perempuan terjebak. Dogmanya kuat banget Sis…
“Sabar itu pahalanya besar.”
“Istri harus taat.”
“Rumah tangga memang berat.”
Benar. Sabar memang nilai yang agung.
Tetapi sabar bukan berarti membiarkan diri dizalimi yaa, camkan itu!
Dalam Islam, gak ada kewajiban untuk bertahan dalam kezaliman.
Tidak ada pahala dalam membiarkan diri terus-menerus disakiti tanpa ikhtiar memperbaiki atau keluar.
Sabar itu aktif.
>Sabar itu tetap berusaha.
>Sabar itu menjaga diri dari keputusan emosional, tapi bukan berarti membiarkan pelanggaran berulang.
Menoleransi kekerasan emosional, finansial, atau fisik bukan bentuk ketakwaan.
Itu bentuk kehilangan batas.
Allah Maha Adil.
Dan Dia sendiri nggak ridha pada kezaliman.
Jika “bersabar” membuat kita semakin kehilangan harga diri, semakin jauh dari rasa damai, bahkan semakin jauh dari Allah karena hati dipenuhi luka dan kebencian—maka mungkin itu bukan sabar yang benar.
Kadang, bentuk sabar yang paling berat adalah berani melepaskan.
Perceraian Bukan Kegagalan Spiritual
Banyak perempuan merasa perceraian adalah kegagalan iman. Padahal bisa jadi itu justru titik balik kedewasaan spiritual. Sebagaimana yang aku alami.
Setelah perceraian, kita belajar:
Mengenal diri lebih dalam
Memperbaiki pola relasi
Menata ulang hubungan dengan Tuhan
Mengerti bahwa cinta tidak boleh menghilangkan diri sendiri
Toxic marriage memang bukan sepenuhnya kesalahan kita.
Tapi keluar dan bertumbuh adalah tanggung jawab kita.
Dan ketika kita memilih bangkit, bukan berarti kita melawan takdir.
Bisa jadi kita justru sedang berjalan menuju takdir yang lebih baik.
Buatku pribadi, setelah bercerai… aku jadi paham kalau dulu aku terlalu gak enakan, sulit belajar bikin batasan karena merasa ingin jadi orang baik terus, aku juga lebih senang menekan diriku sendiri untuk membahagiakan orang sekitarku daripada memprioritaskan kebahagiaanku.
Dengan bercerai, aku akhirnya memilih diriku sendiri.
Spiritual growth bukan tentang tidak pernah jatuh. Tetapi tentang berani berdiri kembali… dengan iman yang lebih dewasa, hati yang lebih jernih, dan batas yang lebih sehat. Setuju?
By Admin :
Jika tulisan ini memberi makna, kamu bisa mendukung penulis dengan secangkir kopi virtual ^__^
Kirim dukunganmu via Dana
081283505658
