Kontributor : Alice Nugroho
Pernahkah kamu merasa sangat malas setiap kali akan berangkat ke kantor? Bukan karena pekerjaannya, melainkan karena atmosfer di sekelilingmu? Aku pernah mengalaminya. Setiap kali aku bangun di pagi hari, bukannya bersyukur karena masih diberikan kesempatan satu hari lagi oleh Tuhan, aku malah sibuk merutuki diri yang harus berangkat ke kantor di hari itu. Aku kemudian menyadari kalau aku menyukai pekerjaanku, tetapi aku tidak suka dengan lingkungan kerjaku. Jika kamu mengalami hal yang sama denganku, mungkin sedang berada di lingkungan kerja yang beracun atau toxic workplace.
Menghadapi lingkungan kerja yang tidak sehat bukan hanya soal beban pekerjaan, melainkan juga soal bagaimana kita menjaga kondisi emosional kita. Riset dalam Journal of Applied Psychology (2023) menunjukkan bahwa perempuan sering kali memikul “beban emosional” (emotional labor) yang lebih besar di kantor, seperti harus tetap tersenyum, tetap harus ramah, atau dianggap harus bisa menenangkan situasi meski lingkungan sedang tidak kondusif.
Agar tetap jadi perempuan berdaya (empowered women), yuk kenali 5 tanda toxic workplace dan strategi pengelolaan emosi yang biasanya juga kulakukan di kantor:
1. Budaya “Gaslighting” dan Meragukan Diri Sendiri
Apakah kamu pernah berusaha mengungkapkan sesuatu kepada atasanmu atau reka kerjamu, tetapi berakhir dengan pendapatmu diabaikan, atau pencapaianmu diakui sebagai milik orang lain hingga kamu merasa “kecil”? Dalam studi Gender, Work & Organization (2024), ditemukan bahwa taktik manipulasi psikologis seperti gaslighting sering kali membuat perempuan meragukan kompetensinya sendiri. Gaslighting sendiri adalah bentuk manipulasi psikologis dan kekerasan emosional yang halus, di mana pelaku membuat korban meragukan ingatan, persepsi, atau kewarasan diri sendiri. Pelaku gaslighting berusaha untuk mengendalikan korban dengan menyangkal fakta, meremehkan emosi, dan memutarbalikkan kenyataan.
Aku sendiri pernah mengalaminya. Aku merasa telah mengerjakan pekerjaanku sesuai dengan aturan yang berlaku dan juga panduan yang diberikan oleh otoritas yang mengampu pekerjaan tersebut, tetapi atasanku menganggap yang kulakukan terlalu “ribet”, menyebut kalau aku hanyalah orang yang “kaku”, dan memutuskan untuk melakukannya dengan caranya. Pekerjaan tersebut akhirnya justru menjadi objek masalah di masa depan, dan kantor kami harus melakukan lebih banyak pekerjaan tambahan untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya bisa dihindari sejak awal.
Belajar dari pengalamanku tersebut, aku mulai mendokumentasikan semua komunikasi. Aku juga memilih untuk menggunakan email atau pesan teks untuk mengonfirmasi semua instruksi agar aku punya bukti tertulis jika terjadi kesalahpahaman. Selain itu, aku juga melatih Self-Validation. Aku tidak lagi menunggu validasi dari lingkungan kantorku yang toksik, dan mencatat setiap keberhasilan kecilmu (wins journal) lengkap dengan tanggal dan waktunya. Secara emosional, aku memisahkan antara “opini subjektif atasan” dan “fakta” terkait kemampuanku sendiri. Jika kamu mengalami hal yang sama denganku, mungkin kamu juga bisa melakukan hal yang sama.
2. Beban Kerja Eksploitatif yang Bikin “Burnout”
Jika kamu merasa harus selalu “siap sedia” untuk membuktikan dedikasimu hingga kamu merasa bersalah jika mengambil jam istirahat atau cuti, mungkin lingkungan kerjamu yang tidak sehat. Riset terbaru (2025) dari International Journal of Environmental Research and Public Health menyoroti bahwa perempuan lebih rentan mengalami burnout karena standar ganda antara ekspektasi kerja dan peran domestik di rumah.
Aku juga pernah mengalami hal seperti ini. Beban pekerjaanku membuatku masih harus buka laptop bahkan di sela-sela ceramah Sholat Idul Adha. Aku jadi jarang ikut kumpul keluarga, jarang memperhatikan tumbuh kembang keponakanku yang seharusnya jadi tanggung jawabku, sampai tidak bisa mendampingi Almarhumah Mamaku menjalani kemoterapi, karena aku masih tetap harus bekerja dan memprioritaskan pekerjaanku.
Aku akhirnya tersadar saat aku akan bercerai dengan mantan suamiku. Atasanku di kantor tidak bersedia membantuku memproses izin ceraiku, dan bahkan kepegawaian di tempat kerjaku pun tak bisa memberikan bantuan karena atasanku menolak memberikan izin cerai. Aku sadar kalau kantor yang selama ini kuprioritaskan, justru tak mau membantuku di saat aku membutuhkan bantuan. Sejak itu, aku mulai menerapkan Radical Prioritization. Aku bahkan berjanji pada Tuhan kalau aku akan memprioritaskan diriku sendiri.
Jadi, kalau kamu merasa bahwa pekerjaanmu terlalu berlebih dan tenggat waktunya yang tidak realistis, mulailah prioritaskan dirimu sendiri secara emosional. Terimalah kenyataan bahwa kamu tidak harus menyenangkan semua orang dan mulailah mengatur batasan. Mengatur batasan (boundaries) bukan berarti tidak loyal, melainkan bentuk kasih sayang pada diri sendiri agar kapasitas mentalmu tetap terjaga.
3. Kepemimpinan yang Tidak Sehat
Jika atasanmu lebih suka menyalahkan orang lain daripada membimbing, sering menggunakan ancaman agar pekerjaan selesai, memiliki “anak emas”, atau sering melakukan micromanaging, mungkin kamu mengalami apa yang disebut dengan toxic leadership. Riset tahun 2024 yang dipublikasikan oleh American Psychological Association (APA) menyoroti bahwa toxic leadership bisa menghancurkan rasa aman karyawan. Riset lain oleh Frontiers in Psychology (2024) juga menyebutkan bahwa gaya kepemimpinan yang tidak sehat dapat memicu respons stres kronis pada karyawan perempuan, yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Aku pernah punya atasan yang punya favoritisme pada beberapa karyawan, dan juga berprinsip bahwa ia harus tahu segala hal, bahkan sampai ke ikan di akuarium kantor yang mati tak luput dari perhatiannya. Ia juga tak pernah memberikan arahan, dan meski kami semua melaporkan segalanya kepadanya, ia mengembalikan semua keputusan kepada kami. Tambahan lagi, jika ternyata keputusan tersebut menimbulkan masalah masa depan, ia mengamuk kepada kami semua.
Jika kamu mengalami hal yang sama, kamu bisa melakukan hal yang sama denganku. Tetaplah bersikap profesional, dan jangan biarkan emosi mereka memancing reaksimu. Fokuslah pada menyelesaikan pekerjaanmu dan kualitas hasil kerjamu. Jika dia bersikap reaktif, gunakan teknik Emotional Detachment. Bayangkan ada “dinding kaca” yang melindungimu, dan biarkan kata-katanya tertahan di kaca tersebut tanpa masuk ke hati. Fokuslah pada substansi pesannya, jika ada, bukan pada nada suaranya.
4. Lingkungan Penuh Drama dan Mikro Agresi
Kantormu penuh gosip yang menjatuhkan karakter atau komentar seksis yang dibalut “bercanda”? Atau ada “kubu-kubu” tak kasat mata yang terbentuk di kantor? Atau pernahkah kamu merasa sengaja ditinggalkan dalam informasi penting atau merasa ada “drama” setiap hari yang menguras energi? Mikro Agresi, komentar “miring”, ataupun pengucilan yang merendahkan sering terjadi di lingkungan toksik. Riset McKinsey & Co. (2023) dalam laporan “Women in the Workplace” menekankan betapa lelahnya mental perempuan menghadapi hal ini.
Aku juga pernah mengalami hal ini. Kantorku penuh dengan “geng” dan setiap hari orang-orang sibuk berkumpul bersama geng masing-masing. Suatu hari, aku ikut makan siang bersama mereka. Pembicaraan mereka tak jauh dari drama dan keburukan orang lain. Selesai makan siang, aku malah makin lelah, bukannya makin berenergi. Belum lagi jokes mereka tentangku yang saat itu belum menikah, makin menambah kepusinganku saat berada di dekat mereka.
Jika kamu mengalami hal yang sama, saranku, mulailah membangun Safe Circle. Jangan terjebak dalam pusaran drama. Kelola emosimu dengan membatasi interaksi dengan orang-orang “penguras energi” (energy vampires). Fokuskan energi sosialmu pada rekan kerja yang suportif dan bicarakan hal-hal yang bersifat pertumbuhan, dan hindari ikut dalam pembicaraan negatif agar kamu tidak terjebak dalam pusaran konflik.
5. Ketiadaan Jenjang (atau Arah Pengembangan) Karir yang Meritokratik
Apakah kamu bekerja lebih keras tapi promosi selalu jatuh ke tangan orang lain yang kurang kompeten tetapi lebih “dekat dengan atasan”? Kurangnya meritokrasi dan adanya “glass ceiling” adalah tanda tempat kerja toksik yang nyata menurut jurnal Sustainability (2024). Glass Ceiling adalah metafora untuk hambatan tak terlihat, sistematis, dan halus—biasanya berupa bias gender atau diskriminasi—yang menghalangi perempuan atau kelompok minoritas lainnya untuk naik ke posisi kepemimpinan tertinggi, meskipun mereka memiliki kualifikasi yang setara.
Salah satu tantangan emosional terberat yang saya hadapi saat ini adalah fenomena Subjective Promotion, di mana sistem like or dislike jauh lebih dominan daripada meritokrasi atau pencapaian nyata. Rasanya sangat melelahkan secara mental ketika kita sudah memberikan performa terbaik, namun kursi promosi justru diberikan berdasarkan kedekatan personal, bukan kompetensi.
Secara emosional, kondisi ini sering memicu imposter syndrome atau rasa tidak berdaya. Jika kamu mengalami hal yang sama, ayo kelola Resilience & Strategic Vision. Rasa kecewa itu valid, tapi jangan biarkan ia berubah menjadi kepahitan yang melumpuhkan. Gunakan emosi tersebut sebagai bensin untuk memperkuat portofolio dan mulai melirik peluang di tempat lain yang lebih menghargai nilai-nilaimu.
Ingat, kesehatan emosionalmu adalah aset yang paling berharga. Lingkungan kerja yang sehat bukan hanya tentang produktivitas, tetapi juga tentang martabat kita sebagai manusia. Kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain, tetapi kita selalu punya kendali penuh atas bagaimana cara meresponnya. Mengelola emosi bukan berarti menahan amarah, tetapi memahami kapan harus bertahan dan kapan harus melangkah pergi demi kesejahteraan emosional yang lebih baik.
Dari 5 tanda di atas, mana yang paling sering membuat emosimu terkuras belakangan ini? Yuk, sharing, agar kita bisa saling menguatkan sebagai sesama perempuan berdaya.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via ovo
![]() |
08567619061 |
