Kontributor : Syamsa Hawa
“Bagi perempuan yang terlalu lama terbiasa kuat,
menerima kadang terasa lebih sulit daripada memberi. Ternyata dicintai dengan baik juga merupakan sebuah keberanian…”
Aku terbangun agak siang. Badan terasa kurang fit, jadi setelah sahur, Shubuh, mengantar suami ke ambang pintu, lalu aku memutuskan tidur lagi.
Ketika membuka mata, ku cek ponsel, ada pesan dari suamiku.
Pesan itu hanya berisi satu hal: bukti transfer.
Jumlahnya cukup besar menurutku.
Di bawahnya ada satu kalimat singkat.
“THR.”
Entah kenapa, mataku langsung otomatis basah.
Aku menangis.
Bukan karena nominalnya.
Tangisan itu datang dari tempat yang lebih dalam—dari bagian diriku yang selama ini terbiasa berdiri sendirian.
Ketika Belasan Tahun Menjadi Tulang Punggung
Ada perempuan-perempuan yang sejak lama terbiasa kuat berjuang sendirian. Bukan karena mereka ingin terlihat kuat, tapi karena keadaan menuntut mereka demikian.
Nah, aku salah satunya.
Belasan tahun hidupku terbiasa menjadi tulang punggung keluarga. Mengatur keuangan, mencari nafkah, memastikan semuanya berjalan.
Bukannya tidak pernah meminta, karena sudah terlalu lelah diabaikan, tubuhku seperti sudah terbiasa bekerja keras, seperti lagu kartun “Ooh sibuknya… aku sibuk sekaliiii!”
Memberi terasa lebih akrab bagiku daripada menerima.
Dalam pernikahanku yang pertama, perhatian hampir tidak pernah hadir dalam bentuk materi.
Aku terbiasa memberi segala yang kupunya– tenaga, waktu, uang, solusi. Saking terbiasanya memberi, aku bahkan lupa bagaimana rasanya menerima.
Dan aku terlalu lelah mengemis hak. Ketika untuk mendapatkan hak, kamu harus menyembah seseorang yang mengaku suamimu, menjelaskan detail kebutuhanmu, lalu dia menunda-nunda kewajibannya karena tahu kamu punya uang, itu sudah menjadi hal menjijikkan bagiku.
Aneh kan ketika seorang laki-laki memegang uang 2 juta Rupiah misalnya, tapi untuk istrinya dia hanya memberi 50 ribu, itu pun sudah merasa memberi banyak, padahal dia tahu itu hanya untuk token listrik yang sudah berbunyi, dan istrinya sudah mengisi 100 ribu Rupiah. Jadi, simpelnya… patungan 50/50 untuk listrik sudah dianggap uang nafkah bagi mokondo.
Daripada meminta-minta bak pengemis, aku lebih baik berusaha sendiri. Biarlah orang mengomentariku bodoh, bagiku itu harga diri yang tersisa.
Namun, ada satu momen yang sampai sekarang masih kuingat jelas. Saat itu aku hamil anak kedua, suamiku (ex) waktu itu tiba-tiba pulang membawa susu ibu hamil. Aku tidak pernah memintanya.
Hal yang bagi orang lain mungkin terasa biasa saja, tapi sukses membuatku menangis.
Sebegitunya. Demikianlah aku merasa bersyukur pada seseorang yang pernah kuanggap suamiku, sekalipun pemberiannya hanya belasan tahun sekali.
Ketika itulah aku sadar, bagiku… sebegitu asingnya perasaan diperhatikan.
Energi Maskulin yang Terlatih oleh Keadaan
Setelah divorce, aku mulai memahami sesuatu tentang diriku. Selama bertahun-tahun aku hidup dengan energi maskulin yang sangat dominan.
>Energi yang fokus pada bertahan hidup, bekerja, memecahkan masalah, memikul tanggung jawab, memprovide orang sekitarku.
Energi yang membuat seseorang selalu siap berdiri di garis depan. Energi ini sebenarnya bukan hal buruk. Banyak perempuan hebat memilikinya.
Namun ada sisi lain yang sering terlupakan:
ketika terlalu lama hidup dalam mode bertahan, seseorang bisa lupa bagaimana rasanya bersandar.
Pernikahan Kedua dan Rasa Kagok yang Aneh
Ketika aku menikah lagi, aku dipertemukan dengan seseorang yang sangat berbeda.
Suamiku yang sekarang memiliki energi maskulin yang kuat—bukan dalam arti dominan atau keras, tapi dalam bentuk tanggung jawab dan kepedulian.
Dia akan reflek memperbaiki tali goodiebagku yang putus, membersihkan kipas angin yang sudah tebal debunya, menguatkan baut panci yang sudah goyang-goyang saat aku pakai untuk masak. Segala yang tidak beres akan langsung ia betulkan.
Hal-hal kecil yang baginya terasa wajar, justru terasa sangat asing bagiku.
Misalnya suatu hari.
Aku sebenarnya bisa berjalan kaki atau naik ojek. Jaraknya tidak jauh. Tapi dia tetap datang menjemput dengan mobil.
Aku bilang, “Nggak usah repot-repot, Sayangku.”
Dia langsung menjawab dengan nada setengah kesal dan bingung, “Apa sih repotnya? Jemput istri itu bare minimum.”
Dan lagi-lagi…
aku menangis.
Bukan karena tersinggung.
Tapi karena perasaan yang membuncah.
Aku baru menyadari bahwa selama ini standar yang kupunya tentang pernikahan ternyata sangat rendah, itulah cara aku bertahan agar tidak perlu sadar telah diinjak-injak sekian lama.
Luka yang Membuat Kita Tidak Percaya Lagi
Percaya nggak? Dulu aku menyatakan bahwa cinta dalam pernikahan itu bullshit!
Oming kosong.
Dusta besar.
T*i kucing.
Maaf kasar, saking aku tidak percaya ada laki-laki baik. Yaah kalaupun ada… mungkin hanya 10% dari populasi pria di dunia.
Buktinya… Banyak pasangan terlihat mesra di media sosial, memamerkan kata-kata manis, foto romantis, perjalanan bersama.
Tapi di balik layar…
mereka saling menyakiti, saling merendahkan, bahkan saling menghancurkan.
Aku melihatnya.
Aku mengalaminya, dan perlahan aku membangun dinding besar dalam hatiku. Kalau tidak berharap, maka tidak akan kecewa. Kalau tidak percaya, maka tidak akan terluka.
Begitu pikirku dulu.
THR yang Bukan Sekadar Uang
Karena itu, transferan dari suamiku saat ini bukan sekadar THR.
Ia seperti sebuah pesan tanpa kata-kata:
“Aku ada.”
“Kamu tidak harus memikul semuanya sendirian.”
“Kamu boleh menerima.”
Tangis yang keluar pagi itu adalah tangis yang aneh. Bukan tangis sedih. Bukan juga tangis bahagia sepenuhnya.
Lebih seperti tangis seseorang yang baru sadar bahwa selama ini ia terlalu lama berjalan sendirian.
Belajar Menerima
Sekarang aku sedang belajar sesuatu yang baru.
Belajar menerima. Energi feminin katanya.
Menerima kebaikan suamiku yang mencintaiku.
Menerima perhatian-perhatian kecil yang dulu terasa asing bahkan awalnya kutolak karena aku merasa merepotkannya.
Ketika aku ingin bertemu teman, dia menawarkan diri untuk mengantarkan.
Kadang dia bahkan ikut duduk bersama kami, ikut mendengarkan obrolan yang sebenarnya cukup personal. Kami sudah menjadi 1 jiwa dalam 2 raga berbeda.
Hal-hal kecil seperti itu dulu tidak pernah ada dalam hidupku. Dan anehnya, yang paling sulit bukanlah menerima itu. Yang paling sulit adalah percaya bahwa aku pantas mendapatkannya. Tapi perlahan aku belajar.
Hadiah Setelah Keberanian Pergi
Hari ini aku bisa mengatakan sesuatu dengan sangat jujur.
Aku bahagia.
Aku bersyukur pernah berani meninggalkan pernikahan yang tidak seimbang. Pernikahan yang membuatku harus selalu kuat sendirian.
Dulu keputusan itu terasa menakutkan. Penuh keraguan, penuh rasa bersalah, penuh ketidakpastian.
Tapi sekarang aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Seolah hidup sedang berkata:
“Karena kamu berani keluar dari tempat yang salah, kamu akhirnya dipertemukan dengan tempat yang benar.”
Dan bagi seseorang yang pernah terlalu lama berjuang sendirian, hadiah seperti ini terasa sangat indah.
Bukan hanya THR di pagi hari.
Tapi rasa aman.
Rasa dihargai.
Dan perasaan sederhana bahwa akhirnya…
aku tidak harus berjuang sendirian lagi.