Kontributor :Β Nufus Afitria
Pertumbuhan sering kali tidak terasa seperti kemenangan. Kadang ia justru terasa seperti kehilangan.
Bukan kehilangan arah, tetapi kehilangan orang-orang yang dulu berjalan sangat dekat dengan kita.
Aku pernah merasakan itu dengan cara yang sangat sunyi.
Bukan pertengkaran.
Bukan juga perpisahan yang dijelaskan dengan kata-kata.
Hanya jarak yang perlahan muncul begitu saja.
Pesan yang dulu dibalas panjang kini hanya dijawab singkat. Percakapan yang dulu mengalir hangat perlahan berubah menjadi basa-basi yang canggung. Dan suatu hari aku sadar, hubungan yang dulu terasa begitu dekat kini seperti rumah lama yang lampunya sudah dimatikan.
Masih ada bentuknya, tapi tidak lagi dihuni.
Awalnya aku mencoba mencari jawabannya di dalam diriku sendiri.
Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?
Apakah aku berubah terlalu jauh?
Atau mungkin aku tidak lagi menjadi orang yang nyaman untuk diajak berjalan bersama?
Pertanyaan-pertanyaan itu sempat berputar lama di kepalaku.
Sampai suatu hari aku menyadari satu hal sederhana: kehidupan mungkin lebih mirip sebuah perjalanan kereta daripada yang selama ini kubayangkan.
Ada orang-orang yang duduk di gerbong yang sama dengan kita. Mereka menemani perjalanan, berbagi cerita, bahkan membuat perjalanan terasa lebih hangat.
Tetapi setiap kereta memiliki banyak stasiun.
Di beberapa stasiun, ada penumpang yang turun. Bukan karena perjalanan itu buruk. Bukan juga karena mereka tidak menghargai kebersamaan yang pernah ada.
Hanya saja, tujuan mereka memang sampai di situ.
Dan sering kali kita tidak diberi penjelasan panjang tentang itu.
Awalnya aku merasa sedih dengan pemahaman itu. Karena kita sering diajarkan bahwa hubungan harus dipertahankan dengan segala cara. Bahwa menjauh berarti tidak setia pada masa lalu.
Padahal bertumbuh kadang hanya berarti menerima bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri.
Ada orang yang hadir dalam hidup kita hanya untuk satu musim. Ada yang berjalan bersama lebih lama. Dan ada juga yang hanya lewat sebentar untuk meninggalkan pelajaran yang sangat berarti.
Memahami hal ini perlahan membuatku berhenti memaksakan hubungan.
Aku tidak lagi berusaha menjelaskan diriku kepada semua orang. Tidak lagi merasa harus membuat semua orang memahami proses yang sedang kulalui.
Bukan karena aku tidak peduli.
Tetapi karena aku mulai belajar menghargai energiku sendiri.
Perjalanan bertumbuh mengajarkanku bahwa kedamaian batin sering kali lahir dari keberanian untuk menyederhanakan hidup.
Lingkaran mungkin menjadi lebih kecil. Percakapan mungkin menjadi lebih sedikit. Namun kualitas kehadirannya terasa jauh lebih tulus.
Orang-orang yang tetap tinggal biasanya bukan mereka yang selalu setuju dengan kita, tetapi mereka yang mampu menerima perubahan tanpa merasa terancam olehnya.
Aku juga belajar satu hal yang tidak kalah penting: ketika kita berubah, sebenarnya kita sedang memberi izin kepada orang lain untuk berubah juga.
Sebagian orang mungkin merasa terinspirasi. Sebagian lainnya mungkin merasa tidak nyaman. Keduanya adalah respon yang sangat manusiawi.
Karena perubahan memang selalu mengusik keseimbangan lama.
Dan itu tidak apa-apa.
Bertumbuh bukan berarti meninggalkan semua orang di belakang. Namun bertumbuh juga bukan berarti harus tetap tinggal di tempat yang tidak lagi selaras dengan jiwa kita.
Kadang bertumbuh hanya berarti berjalan sedikit lebih jujur terhadap diri sendiri.
Dan ketika kita berani melakukannya, hidup biasanya akan mempertemukan kita dengan orang-orang baru yang mampu melihat versi kita yang sekarang.
Bukan versi lama yang selalu berusaha menyenangkan semua orang, tetapi versi yang lebih tenang, lebih sadar, dan lebih utuh.
Untuk kamu yang membaca tulisan ini, mungkin kamu juga sedang berada di fase di mana beberapa hubungan terasa berubah tanpa penjelasan yang jelas.
Jika itu yang kamu rasakan, semoga kamu tidak terlalu keras pada dirimu sendiri.
Tidak semua orang memang ditakdirkan untuk ikut tumbuh bersama kita. Dan itu bukan kegagalan hubungan.
Kadang itu hanya bagian dari perjalanan hidup yang sedang menata ulang ruang di sekitar kita, ruang untuk orang-orang yang benar-benar selaras, ruang untuk percakapan yang lebih jujur, dan ruang bagi diri kita sendiri agar bisa bernapas dengan lebih lega.
Dan untuk kamu yang membaca sampai di titik ini, semoga perjalanan hidupmu selalu dipenuhi keberanian untuk tetap menjadi dirimu sendiri. Semoga hatimu cukup lapang untuk melepaskan tanpa kebencian, dan cukup kuat untuk terus melangkah tanpa kehilangan kelembutan. Semoga setiap proses yang kamu jalani perlahan membawamu kembali pada dirimu yang lebih tenang, lebih sadar, dan lebih utuh.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sangΒ penulisΒ lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Ovo
085287957735
