Kontributor :Β Nafis Amna
Teorinya sering terdengar sederhana: makan makanan sehat, pilih real food, kurangi makanan yang terlalu diproses. Tetapi ketika teori itu benar-benar dicoba dalam kehidupan sehari-hari, ternyata ceritanya tidak selalu sesederhana itu.
Beberapa waktu lalu di komunitasku ada sebuah program bernama *Grit in New Habit, sebuah *challenge untuk melatih konsistensi dalam membangun kebiasaan baru di berbagai aspek kehidupan.
Dari beberapa opsi area yang ada, aku memilih fokus pada area physical, yaitu mencoba membangun kebiasaan makan sehat dengan konsep real food. Alasannya sederhana. Makan adalah kebutuhan primer manusia. Setiap hari kita pasti makan, jadi menurutku ini adalah langkah yang realistis untuk mulai memperbaiki diri.
Aku mulai mencoba membuat menu-menu sederhana. Ada buah-buahan segar, sayur, rebusan umbi, serta lauk yang dimasak dengan minyak yang sangat sedikit. Tidak rumit sebenarnya. Bahkan sebagian besar menu ini mudah dibuat di rumah.
Sebagai bagian dari report program di komunitas, aku juga memfoto makanan yang aku buat. Buah, sayur, dan berbagai menu sehat itu aku abadikan sebagai dokumentasi kecil dari proses yang sedang aku jalani. Rasanya menyenangkan melihat makanan yang tampak lebih segar dan alami.
Kalau dilihat dari sisi nutrisi, sebenarnya makanan yang aku siapkan sudah cukup baik untuk kebutuhan tubuhku. Ada serat dari sayur dan buah, ada protein dari lauk yang dimasak sederhana, dan semuanya diolah dengan cara yang lebih sehat.
Namun di sinilah bagian real life mulai terasa.
Aku memang berhasil menjalani program ini kurang lebih selama satu minggu. Tapi setelah itu aku harus melakukan perjalanan ke luar kota, dan di situlah ritme yang sudah mulai terbentuk perlahan mulai terputus. Selain itu, aku juga mulai merasakan rasa jenuh.
Jujur saja, kadang godaan makanan enak itu terasa jauh lebih kuat daripada niat hidup sehat yang baru seminggu dibangun.
Pada momen tersebut aku menyadari satu hal yang cukup jujur tentang diriku sendiri.
Selama ini makanan bukan hanya sekadar kebutuhan fisik bagiku. Makanan juga sering menjadi sesuatu yang memberi rasa nyaman secara emosional. Kadang makanan yang terasa enak bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga seperti cara kecil untuk menghibur diri. Bahkan sering kali makanan juga menjadi semacam self reward bagiku ketika merasa berhasil melakukan hal lain.
Di titik itu aku mulai memahami bahwa membangun kebiasaan makan sehat bukan hanya soal menu atau resep. Ada juga faktor emosi, kebiasaan lama, dan keinginan yang kadang sulit dikendalikan.
Namun dari pengalaman itu aku juga belajar satu hal lain: menjalani pola makan sehat tidak selalu harus berarti memasak semuanya sendiri di rumah.
Fun fact, sebenarnya kita tetap bisa makan di luar dan tetap memilih opsi yang lebih sehat. Kita hanya perlu sedikit lebih sadar dalam memilih.
Misalnya ketika jajan soto ayam Lamongan. Bubuk koyanya bisa di-skip agar mengurangi tambahan kerupuk dan minyak. Tidak usah pakai nasi karena biasanya sudah ada bihun sebagai sumber karbohidrat. Selain cutting carbo, bisa jadi lebih hemat juga loh.
Contoh lain ketika ingin makan seblak. Biasanya seblak identik dengan kerupuk sebagai bahan utamanya. Tapi kita juga bisa membuat versi yang sedikit berbeda dengan tidak memakai kerupuk. Kita tetap bisa menikmati rasa seblak dengan memilih protein seperti ceker ayam, menambahkan telur, serta sayuran seperti sawi. Hasilnya memang tidak seperti seblak pada umumnya, tetapi rasanya tetap sama dan terasa lebih light.
Selain itu, ceker ayam juga mengandung kolagen, sementara telur dan sayuran memberi tambahan protein serta nutrisi lain bagi tubuh.
Ada satu hal lagi yang kemudian aku sadari.
Ada sebuah kalimat yang cukup terkenal dalam dunia kesehatan: you are what you eat. Apa yang kita makan perlahan akan membentuk kondisi tubuh kita sendiri.
Sering kali ketika orang berbicara tentang makan sehat, yang langsung terbayang adalah goals tubuh ideal. Seolah-olah kebiasaan makan sehat baru dianggap berhasil jika berat badan turun.
Padahal sebenarnya tidak selalu seperti itu.
Bagiku, mencoba makan dengan konsep real food bukan semata-mata tentang mengejar badan yang lebih kurus. Yang lebih penting justru membangun kebiasaan yang lebih baik dalam jangka panjang. Tentang bagaimana kita belajar memilih makanan yang lebih alami, lebih sederhana, dan lebih ramah untuk tubuh kita sendiri.
Meski perjalananku saat itu tidak berlangsung terlalu lama, experience-ku tetap worth it.
Aku belajar bahwa perubahan tidak selalu harus langsung sempurna. Kadang kita mencoba, berhenti sebentar, lalu mencoba lagi di waktu yang lain.
Perjalanan menuju hidup yang lebih sehat ternyata bukan tentang berhasil atau gagal, tetapi tentang terus belajar memahami diri sendiri.
Di akhir tulisan ini, aku cuma ingin bilang satu hal.
Kalau kamu juga sedang mencoba hidup lebih sehat, tapi masih sering putus di tengah jalan, kamu tidak sendirian.
Aku sendiri masih terus belajar. Kadang berhasil sebentar, kadang berhenti lagi, lalu mencoba lagi di waktu yang lain.
Memang seperti itulah prosesnya. Tidak selalu rapi, tidak selalu konsisten, dan sering kali berjalan pelan.
Kalau pun suatu saat kita merasa gagal, tidak apa-apa. At least kita pernah mencoba. Dan dari mencoba itu, kita juga belajar membangun self awareness, sedikit demi sedikit lebih mengenal diri kita sendiri.
Semoga kita semua diberi kesadaran untuk terus belajar menjaga tubuh kita. Karena apa yang kita makan setiap hari, bagaimana kita memperlakukan tubuh kita, pada akhirnya adalah bentuk investasi jangka panjang untuk diri kita sendiri.
Semoga langkah-langkah kecil yang kita mulai hari ini, meskipun kadang terputus dan belum konsisten, tetap membawa kita perlahan menuju hidup yang lebih sehat.
Karena pada akhirnya, hidup sehat bukan tentang sempurna. Tetapi tentang terus kembali mencoba.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sangΒ penulisΒ lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank MANDIRI a.n. Nafis Amna 0060011117458
Β 0060011117458
