Kontributor : Nufus Afitria
Kita sering merasa punya banyak waktu.
Untuk pulang.
Untuk bertemu.
Untuk memperbaiki hubungan yang renggang.
Untuk mengatakan hal-hal yang sebenarnya sudah lama ingin kita sampaikan.
Seolah hidup ini panjang.
Seolah semua bisa ditunda nanti saja, ketika suasana lebih tepat, ketika hati sudah siap, ketika keadaan sudah lebih baik.
Sampai sebuah kejadian mengingatkan…
bahwa hidup tidak selalu menunggu kita siap.
Beberapa hari terakhir, aku terdiam cukup lama.
Bukan hanya karena berita yang terjadi, tetapi karena ada sesuatu yang terasa sangat dekat meski tidak aku alami secara langsung.
Tentang perempuan-perempuan yang pagi itu mungkin hanya menjalani hari seperti biasa. Berangkat, seperti hari-hari sebelumnya. Dengan rencana sederhana. Dengan pikiran yang mungkin penuh dengan hal-hal kecil yang belum sempat diselesaikan.
Dan tanpa pernah tahu, bahwa hari itu akan menjadi hari terakhir.
Di titik itu, aku tidak lagi melihat peristiwa sebagai sekadar kejadian.
Aku melihatnya sebagai cermin.
Cermin tentang hidup yang selama ini sering kita anggap pasti.
Cermin tentang waktu yang sering kita rasa masih panjang.
Dan cermin tentang hal-hal yang kita tunda seolah kita selalu punya kesempatan berikutnya.
Padahal… tidak selalu.
Kita menunda bilang sayang.
Menunda meminta maaf.
Menunda hadir sepenuhnya untuk orang-orang terdekat.
Bahkan lebih jauh lagi, kita menunda untuk jujur pada diri sendiri.
Menunda mengakui bahwa kita lelah.
Menunda menerima bahwa ada luka yang belum sembuh.
Menunda mengambil keputusan yang sebenarnya sudah lama kita tahu.
Seolah kita punya waktu tanpa batas.
Padahal kenyataannya, hidup ini jauh lebih rapuh dari yang kita bayangkan.
Di situlah aku mulai berhenti.
Bukan untuk takut.
Tapi untuk benar-benar melihat.
Apakah aku benar-benar menjalani hidup dengan sadar?
Atau aku hanya menjalani rutinitas, sambil terus menunda hal-hal yang sebenarnya penting?
Apakah aku sudah hadir sepenuhnya dalam setiap momen?
Atau aku masih sibuk menunggu waktu yang “lebih tepat” yang mungkin tidak pernah datang?
Pertanyaan-pertanyaan itu memang tidak nyaman.
Tapi justru di sanalah letak kejujurannya.
Secara mental, kita sering merasa punya kendali penuh atas hidup. Kita membuat rencana, menyusun masa depan, dan merasa semuanya bisa diatur sesuai keinginan.
Padahal ada banyak hal yang berada di luar kendali kita.
Dan menyadari itu bukan berarti lemah.
Justru itu adalah bentuk kesadaran.
Secara emosional, kita sering menahan banyak hal. Menyimpan perasaan, menunda ekspresi, menunggu waktu yang dirasa “aman” untuk jujur.
Padahal perasaan yang tidak diungkapkan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tertunda.
Dan tidak semua hal diberi kesempatan untuk disampaikan nanti.
Secara spiritual, kejadian seperti ini seperti pengingat yang halus, tapi dalam.
Bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa lama kita ada.
Tetapi tentang seberapa sadar kita menjalaninya.
Bahwa waktu bukan sesuatu yang bisa kita genggam.
Ia berjalan. Tanpa menunggu kita siap.
Dan mungkin, selama ini kita terlalu sering menunggu.
Menunggu waktu luang.
Menunggu kondisi ideal.
Menunggu versi diri yang lebih siap.
Padahal hidup terjadi sekarang.
Di momen ini.
Di napas yang masih kita miliki hari ini.
Dan mungkin, bukan tentang melakukan hal besar.
Tetapi tentang tidak lagi menunda hal-hal sederhana yang sebenarnya berarti.
Menghubungi orang tua.
Memeluk anak lebih lama.
Mengatakan hal yang selama ini tertahan.
Dan… mulai jujur pada diri sendiri.
Karena pada akhirnya, kita tidak pernah benar-benar tahu:
mana pertemuan yang terakhir,
mana percakapan yang terakhir,
dan mana momen yang tidak akan terulang lagi.
Untuk kamu yang membaca ini, semoga kamu tidak perlu menunggu kehilangan untuk mulai menyadari.
Semoga kamu berani hadir lebih utuh hari ini.
Berani merasakan, berani mengungkapkan, dan berani menjalani hidup dengan lebih sadar.
Semoga yang masih bisa kamu jangkau, kamu jaga dengan sepenuh hati.
Yang masih bisa kamu ucapkan, tidak lagi kamu tunda.
Dan yang masih bisa kamu perbaiki, kamu beri kesempatan.
Semoga setiap langkahmu dilapangkan, setiap waktumu dimaknai, dan setiap detik yang kamu jalani membawa kamu lebih dekat pada hidup yang benar-benar kamu sadari.
Karena ternyata…
tidak semua yang kita tunda, masih diberi waktu.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Ovo
085287957735
