Kontributor : Syamsa Hawa
Deg. Malam itu sebuah video dikirimkan oleh seorang teman ke grup whatsapp, kecelakaan kereta baru saja terjadi di stasiun Bekasi Timur. Mulutku langsung ternganga melihat apa yang terjadi. Kepala Lokomotif kereta jarak jauh (KJJ) merobek gerbong khusus wanita paling belakang. Astaghfirullah…
Baru sehari sebelumnya aku melewati Stasiun tersebut, karena memang kakak, adik, dan putri sulungku tinggal di Cibitung.
Aku langsung mencari berita kecelakaan itu selengkapnya, sayangnya di menit itu belum ada info lengkap bagaimana kereta yang sedang berhenti di stasiun tersebut bisa ditabrak KJJ? Masih simpang siur soal taksi ijo yang menerobos rel…
Belum ada air mata di pelupuk mataku, yang menyeruak hanyalah debaran jantung… apakah ada kakak, adik, atau anak perempuanku di dalam kereta itu?
Setelah memastikan melalui WA semua keluarga posisi aman di rumah, barulah emosi itu keluar… aku menangis sejadi-jadinya, merasakan kesedihan yang luar biasa di Senin malam itu.
Aku Juga Pernah Menjadi Pejuang Kereta…
Tanpa ku komando, kilasan ingatan masa lalu tersibak.
Ya, dulu aku adalah ibu-ibu anker (anak kereta), setiap hari berjibaku naik kereta, dari saat kereta masih dimasuki pedagang asongan, pengemis, dan orang-orang yang duduk di atap kereta. Hingga menjadi Commuter Line yang rapi seperti saat ini.
Sedikit berbeda dari para pekerja anker lainnya, aku memilih berangkat siang daripada harus berjejalan seperti ikan sarden di dalam gerbong. Dan pulang kerja pun malam hari saat kereta berangsur sepi.
Pagi hari aku bermain dengan anak dulu sebelum berangkat. Saat itu anak sulungku sudah berusia 2,5 tahun, sudah selesai aku beri ASI ekslusif.
Mengapa aku sampai mau bekerja PP Bekasi-Jakarta setiap hari? Yaah… Karena suami yang mustinya bertanggungjawab memenuhi nafkah, sudah 2 tahun tidak bekerja dan tidak ada tanda-tanda ‘insyaf’. Aku terlalu bodoh dan naif untuk bisa berpikir cerai saat itu.
Percakapan terakhir kami sebelum akhirnya aku memutuskan kerja kantoran pun sangat dagelan. Kira-kira begini:
“Mas, kira-kira kapan Mas bisa menafkahi aku?”
“Sampai tahun depan kayaknya belum bisa…” (dalam hatiku… oo, udah berencana gak kerja sampai tahun depan rupanya, fyi… beliau minta uang ke istrinya tiap hari tanpa malu-malu yes, dan bodohnya… istrinya terlalu lelah untuk menolak permintaan karena ngakunya uangnya untuk mencari kerjaan)
“Ya udah, kalau gitu aku ubah statusku dari freelance ke pegawai tetap di kantor ya?”
“Oke…”
“Berarti kita tukeran posisi… aku jadi suami, Mas jadi istri? Mas yang jagain anak di rumah?”
“Iya.”
Meski heran kok ada laki-laki yang nggak merasa dilecehkan dengan pertanyaan seperti itu, aku saat itu cuma fokus bagaimana bisa tetap hidup dan menghidupi keluarga kecilku.
Saat suami lebih suka memakai ‘daster’, apa boleh buat… istri harus bisa memakai baju zirah. Dan kereta menjadi kuda besiku saat itu.
Pekerjaan yang Paling Sulit: Menjadi Ibu + Pekerja
Menjadi seorang ibu pekerja yang meninggalkan anak di rumah adalah hal menyedihkan yang takkan bisa dimengerti kecuali oleh pelakunya sendiri.
Di saat seorang ibu bekerja akibat suami yang disfungsi, suami malah pencitraan menyengaja memberi anak makan di depan para tetangga, sehingga gosip pun tercipta.
“Waaa… hebat ya ayahnya yang ngasih makan anak, mana ibunya?”
“Ibunya kerja…”
“Ayahnya emang gak kerja?”
“Saya masuk malam…”
Kebohongan yang tidak diketahui siapa pun karena ia akan keluyuran malam hingga tengah malam untuk nongkrong di rumah temannya.
“Waah hebat banget, kerja juga… ngasuh anak juga yaa…”
Lalu, ucapan para perempuan ‘solihah’ pemilik kavling surga juga sering menggangguku saat itu. Para perempuan ini saking sholihahnya mengira semua suami itu se-sholih suaminya dia, maka mereka pun berfatwa:
“Istri yang bekerja itu tidak pandai bersyukur! Harusnya terima saja apa yang diberikan suami, banyak atau sedikitnya… gak perlu ikutan kerja, sampe tabaruj, dan ber-ikhtilat dengan lawan jenis, bahkan tega meninggalkan anak.”
Plis kalau gak tau jangan sotoy, kalau suamimu baik dan memberi nafkah… syukuri saja, tidak perlu mengomentari perempuan lain yang tidak seberuntung kamu. Bagi perempuan yang bersuamikan mokondo, mereka hanya diberi air mani tok, uang seratus perak pun tidak, lalu… istri dan anak si mokondo ini harus terima makan air mani gituuu??
Lalu, hati ibu mana yang nggak sakit harus bekerja meninggalkan anaknya?
Aku ingat, saat anak gadisku sudah bisa kritis, sekitar usia 7 tahun, ia pernah protes padaku mengapa tidak seperti ibu-ibu lain yang di rumah saja. Saat itu aku dengan kekesalan dan kesedihan teramat sangat, melampiaskan dalam jawaban penuh depresi.
“Kamu pikir kalau Umi gak kerja, siapa yang bakal bayar uang kontrakan, uang makan, tagihan listrik, kamu pikir umi mau beginiii??”
Toksik sekali aku saat itu. Menjawab pertanyaan anak kecil dengan semarah itu.
Bagaimana tidak, janji seseorang untuk bertukar peran sebagai istri nyatanya tidak pula dijalankan dengan baik, pada akhirnya aku harus meminta tolong pengasuh masa kecilku untuk mengurus anakku, aku memanggilnya ‘emak’, dia ibu asuhku, saat itu jadi ibu asuh anakku juga, ku bayar jasanya dengan layak. Sementara peran menjadi seorang suami terus ku lakoni hingga 9 tahun kemudian… tanpa meminta nafkah pada suami yang bagiku sudah hilang taji, uang kebutuhan bulanan saat itu aku yang tanggung.
Suami aslinya ngapain dong?
Seorang istri yang sudah mati rasa tidak akan peduli lagi. Sekali lagi, bodohnya… aku tak bisa berpikir cerai atau berpisah, karena mungkin semua terasa baik-baik saja. Aku mampu menangani semua.
Yang lebih bodoh lagi, karena aku masih menganggap dia sebagai suami, aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai istri. Meski dengan perkataan yang seharusnya membuatnya malu.
“Mas, aku merasa jauh lebih rendah dari seorang PSK lho. Para PSK itu diberi uang saat dipakai, sedangkan aku tidak kau nafkahi sama sekali.”
Aku saat itu belum sadar kalau ada manusia yang betul-betul tak tahu malu, dan tak tahu diri. Sebuah pelajaran mahal dalam hidup kalau tidak semua orang bisa berempati seperti diri kita.
Goncangan Dahsyat
‘Kekacauan hidupku’ mulai terasa saat pengasuhku masa kecil yang juga mengasuh anakku meninggal mendadak, emak terkena serangan jantung saat sedang menyuapi anak keduaku makan.
Saat itu aku sudah punya 3 anak, kantor lama sudah bangkrut, jadi aku tak punya pekerjaan maupun gaji tetap. Itu sebabnya kepergian emakku betul-betul membuatku terpukul. Tak lagi manusia yang bisa menjadi tempatku ‘bersandar’.
Namun di sisi lain, aku bersyukur bahwasanya pribadiku selalu mau belajar menambah skill, saat itu aku sudah mulai bisa editing video, mendesain poster, proposal, copy writing, menerjemahkan ke bahasa Mandarin atau Korea, atau apapun keterampilan baru yang aku perlukan, semua ku pelajari semata-mata agar aku tak perlu bergantung pada orang lain. Maka, aku bisa bekerja serabutan dengan apapun skill yang kumiliki.
Setelah emakku meninggal dunia, aku sempat bekerja 2 bulan di sebuah kantor bilangan Jakarta Selatan. Kali ini bukan kantor ramah anak seperti sebelumnya, jadi aku harus berjejalan di kereta setiap pagi dan sore, dengan meninggalkan anak, lelah sekali. Yang sedih, gaji yang kuterima saat itu nyatanya hanya cukup menutupi uang transport dan makan saja, saking kecilnya. Itu sebabnya aku memutuskan berhenti di bulan ke-3.
Dari Gerbong Sesak ke Hidup yang Layak
Panjang jika kuceritakan detailnya, namun marilah kita kembali ke masa kini. Aku sudah bercerai dari sang mokondo, sempat menjalani peran single mom 4 tahun, kemudian akhirnya menikah dengan seorang laki-laki sejati.
Kini, aku bisa mendapat penghasilan 2-3x lipat dibanding kerja kantoran dahulu, hanya dari rumah saja, tanpa perlu meninggalkan anak-anakku. Sungguh sebuah nikmat yang luar biasa.
Apa mindset yang kuubah hingga bisa sampai ke titik ini?
Pertama, aku belajar me-rilis kebiasaanku untuk mengontrol segala sesuatu. Dengan sadar aku serahkan kontrol itu pada Tuhan yang menggenggam jiwaku.
“Wahai Allah, bukan pekerjaanku yang memberiku rezeki, bukan pula gaji yang menghidupiku dan anak-anakku, melainkan kasih sayangmu padaku.”
Sama sekali tidak mudah buatku melakukan ini, karena aku sudah terlalu biasa mengontrol segala sesuatu, harus ada gaji minimal sekian, harus ada penghasilan tambahan minimal sekian. Pada akhirnya aku harus merilis segala keinginan mengontrol ini, karena pengalaman hidupku sudah memberiku pelajaran.
Jika tidak, hidupku takkan pernah berubah.
Karena saat kita melambaikan tangan, barulah Tuhan akan turun tangan dalam hidup kita.
Kedua, aku sudah punya mindset yang benar: “Orang memerlukan aku, bukan aku yang memerlukan orang!”
Dulu, saat aku masih janda dan single mom, ada yang ngomong begini padaku, “Mba Shinta beruntung… bisa dapat kerjaan gaji 5 juta kayak gini (gaji saat itu) padahal punya 4 anak.”
“Oo… salah, Mba, bukan aku yang beruntung, justru lembaga ini yang beruntung karena bisa mempekerjakan aku, cuma gaji 5 juta bisa mengerjakan kerjaan beberapa orang sekaligus.”
Ya, aku punya perspektif baik tentang diriku sendiri karena aku terus menanam banyak skill, aku bisa public speaking, menulis, mendesain, mengedit video, aku juga punya berbagai lifeskills yang baik, seperti; tanggungjawab, empati, berpikir kritis dan mengambil keputusan, komunikasi jelas, kerjasama tim, kreatif, adaptif, dllsb.
Ketiga, aku memiliki support system luar biasa yakni suami yang sangat mendukung. Suamiku saat ini sangat membanggakan aku, selalu mengingatkanku bahwa aku tidak perlu jadi bayangan orang lain, aku bisa kok tampil sendiri, menopang usahaku sendiri bukan lagi bekerja untuk orang lain.
Ternyata ucapan suamiku ini menyadarkanku bahwa selama ini aku masih punya trauma hebat yang membelengguku, membuatku merasa hanya mampu sebagai support system bagi perusahaan lain, lembaga lain, orang lain, padahal nyatanya… aku bisa lho berdiri di kaki sendiri!
Kehadiran suamiku saat ini membuatku makin percaya diri untuk tampil atas nama diriku sendiri bukan lagi pihak lain. Terima kasih, Sayangku…
Ternyata Aku Bukan Lagi Aku yang Dulu…
Pada akhirnya, peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi Timur menyadarkanku perubahan besarku saat ini. Ternyata saat ini aku sudah mencapai stage di mana aku bisa tetap bekerja, aktualisasi diri, bermanfaat untuk orang lain tanpa meninggalkan rumah.
Aku menjadi pengajar Mandarin secara online, untuk murid di seluruh Indonesia bahkan sampai Singapur, Hongkong, dan Qatar, aku juga jadi ghostwriter untuk orang-orang yang memerlukan jasa penulisan buku, kesemua pekerjaanku saat ini tidak membutuhkan ragaku beranjak dari rumah sama sekali.
Bukankah ini adalah nikmat yang amat hebat? Nikmat yang aku yakini bisa dirasakan juga oleh siapapun perempuan yang mau.
Meski demikian, duka mendalam sampai saat kutuliskan ini masih bisa kurasakan, saat melihat banyaknya buket bunga di stasiun, air mata masih mengaliri pipiku.
Aku bukan perempuan yang masih marah dan trauma pernah menjadi seorang pejuang nafkah dari kereta, aku juga bukan pembenci laki-laki berstatus suami yang kadang kala memang dalam kondisi sulit sehingga harus merelakan istri bekerja meninggalkan anak di rumah. Aku paham bahwa rumah tangga itu berdinamika, yang terpenting ada keadilan dan saling kerjasama di dalamnya, jangan seperti aku yang dulu.
Tulisan ini kupersembahkan untuk para perempuan hebat, yang menjadi korban kecelakaan kereta di Line Cikarang, yang mendedikasikan diri tidak hanya untuk keluarga tapi juga untuk masyarakat, yang rela meninggalkan kenyamanan rumah untuk turut berbakti pada negeri. Semoga Tuhan ridho dengan segala jerih yang kalian lakukan semasa hidup.
By Admin :
Jika tulisan ini memberi makna, kamu bisa mendukung penulis dengan secangkir kopi virtual ^__^
Kirim dukunganmu via Dana
081283505658
