Kontributor : Luthfia Kinanthi
Guncangan yang Datang Tanpa Aba-Aba
Aku membaca kabar kecelakaan kereta itu lewat tengah malam. Ada jeda sunyi yang tiba-tiba terasa panjang. Rasa takut datang tanpa aba-aba—sejenis ketakutan lama yang diam-diam menetap sejak kecil, tentang kehilangan yang terjadi begitu saja, tanpa sempat berpamitan.
Ingatanku tiba-tiba melompat pada orang-orang yang pernah pergi: kakek, nenek, budhe, pakdhe, bahkan seseorang yang tak pernah sempat hadir sepenuhnya dalam hidupku. Berita itu seperti membuka kembali ruang yang selama ini berusaha kututup rapat.
Aku memastikan kabarnya, menelusuri berbagai media. Ternyata benar, tanganku sempat gemetar saat menghubungi seorang teman yang bekerja di Jakarta. Syukurlah, ia baik-baik saja.
Namun pikiranku tidak berhenti di sana. Pengalamanku di dunia media membuatku refleks memetakan peristiwa: bagaimana ini bisa terjadi, siapa saja yang terdampak, dan apa yang akan tersisa setelahnya.
Ketika Data Berubah Menjadi Wajah-Wajah Nyata
Tubuhku terasa semakin berat ketika membaca bahwa gerbong yang terdampak adalah gerbong yang berisi perempuan. Bayangan tentang kepanikan, tentang ruang sempit yang mendadak menjadi penuh ketidakpastian, muncul begitu saja.
Banyak dari mereka adalah perempuan usia produktif. Sebagian mungkin sedang mengejar mimpi, sebagian lain sedang menjalankan peran sebagai ibu, termasuk yang masih menyusui. Dalam satu momen, kehidupan mereka berubah—dan bagi sebagian, mungkin terhenti.
Namun di tengah duka yang seharusnya mengundang empati, muncul narasi lain yang tak kalah mengusik.
Narasi yang Menyempitkan di Tengah Tragedi
Alih-alih merawat luka bersama, sebagian suara justru memanfaatkan tragedi ini untuk mempersempit makna perempuan. Ada yang kembali menggulirkan gagasan lama: bahwa perempuan seharusnya tidak perlu berada di ruang publik, bahwa bekerja adalah bentuk penyimpangan dari “kodrat”, bahwa dunia luar terlalu berisiko bagi mereka. Seakan-akan, kehadiran perempuan di luar rumah adalah kesalahan yang harus ditebus.
Di titik ini, kita perlu jujur bertanya: sejak kapan keselamatan perempuan dijadikan alasan untuk membatasi mereka?
Tragedi tidak terjadi karena perempuan memilih untuk bekerja. Kecelakaan tidak lahir dari ambisi perempuan. Menyederhanakan peristiwa kompleks menjadi dalih untuk mengontrol pilihan hidup perempuan bukan hanya keliru, tapi juga mengabaikan akar persoalan yang sebenarnya.
Ironi Emansipasi yang Belum Selesai
Bulan April sering diingat sebagai momentum emansipasi. Namun ironi muncul ketika, di waktu yang sama, makna perempuan justru kembali direduksi. Perempuan dinilai dari seberapa “patuh” ia pada batasan sosial, bukan dari kemampuannya menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan selalu berada di persimpangan penilaian: ketika memilih di rumah dianggap tidak produktif, ketika memilih bekerja dianggap meninggalkan peran. Apa pun pilihannya, selalu ada standar yang siap menghakimi.
Pertanyaannya bukan lagi apa yang seharusnya perempuan lakukan, melainkan mengapa pilihan mereka selalu menjadi objek penghakiman.
Dari Opini ke Tindakan: Apa yang Bisa Dilakukan?
Barangkali, yang perlu kita lakukan sekarang bukan menambah panjang daftar opini, tetapi memperbaiki cara kita memandang dan merespons.
Pertama, menghadirkan empati sebagai pijakan utama.
Di balik angka korban, ada keluarga yang kehilangan. Ada orang-orang yang setiap hari berangkat dengan harapan pulang dalam keadaan utuh. Empati menuntut kita untuk melihat mereka sebagai manusia, bukan sekadar bagian dari narasi.
Kedua, memperbaiki sistem secara serius dan menyeluruh.
Tragedi seperti ini tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari berbagai celah—teknis, pengawasan, hingga kedisiplinan. Keselamatan publik, termasuk perempuan di dalamnya, adalah tanggung jawab bersama yang harus dijamin oleh sistem yang bekerja, bukan oleh pembatasan ruang gerak.
Ketiga, merekonstruksi makna perempuan dalam masyarakat.
Perempuan bukan pihak yang perlu “diamankan” dengan cara dibatasi. Mereka adalah individu yang memiliki hak yang sama untuk bergerak, bekerja, dan bermimpi. Tugas masyarakat bukan mengecilkan ruang mereka, melainkan memastikan bahwa ruang itu aman dan layak untuk semua.
Rekonstruksi yang Seharusnya Terjadi
Melindungi perempuan tidak pernah berarti mengurung mereka. Melindungi berarti menghadirkan kondisi di mana mereka tidak perlu memilih antara keselamatan dan cita-cita.
Guncangan dari peristiwa ini seharusnya tidak hanya menggoyahkan rel, tetapi juga cara pandang kita. Bahwa yang perlu diperbaiki bukan keberanian perempuan untuk melangkah, melainkan sistem dan pola pikir yang belum siap menerima langkah itu.
Jika ada yang perlu direkonstruksi dari tragedi ini, maka itu adalah makna tentang perempuan itu sendiri—bahwa mereka tidak pernah menjadi masalah, dan tidak seharusnya diperlakukan sebagai batas.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank Mandiri 1710010724667 LUTHFIA KINANTHI DAR
1710010724667
