Kontributor : Nafis Amna
Ketika yang tak pernah kita pikirkan… justru menjadi kenyataan.
Tak pernah terlintas, bahwa sesuatu yang hanya sekali melintas di hadapan bisa mengubah seluruh lintasan hidup selamanya.
Tak pernah terlintas, bahwa hari yang terasa biasa saja bisa berubah menjadi batas antara “sebelum” dan “sesudah”.
Pagi berjalan seperti biasa. Orang-orang berangkat dengan rutinitasnya, membawa rencana kecil di kepala tentang pekerjaan, tentang keluarga, atau sekadar ingin segera pulang dan beristirahat.
Semua terasa berjalan seperti biasa…
hingga sesuatu yang tak pernah terlintas itu, justru melintas di hadapan.
Hari yang Terasa Biasa
Tak pernah terlintas, bahwa ada yang tidak akan sampai di tujuan.
Bahwa ada pelukan yang tertunda, percakapan yang belum sempat terjadi, dan rindu yang harus dipeluk sendirian oleh mereka yang ditinggalkan.
Aku tidak pernah benar-benar memikirkan itu… sampai suatu hari, aku sendiri dipertemukan dengan kehilangan yang datang tanpa aba-aba.
Beberapa tahun lalu, suamiku meninggal dunia karena Covid-19.
Saat itu, hidup terasa berjalan seperti biasa. Tidak ada tanda bahwa hari-hari yang kami jalani bersama akan berubah begitu cepat. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa seseorang yang selama ini selalu ada, suatu hari akan pergi tanpa bisa kutahan.
Sejak saat itu, aku memahami bahwa kehilangan tidak selalu datang setelah kita siap. Kadang ia hadir begitu saja, mengubah seluruh arah kehidupan dalam hitungan waktu yang tidak pernah kita duga.
Kehilangan yang Datang Tanpa Tanda
Aku masih ingat hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa.
Obrolan kecil di rumah, kehadiran yang dulu selalu ada, dan kebiasaan menikmati makanan kesukaannya ayam goreng dan sambal tanpa pernah berpikir bahwa suatu hari semua itu hanya akan menjadi kenangan.
Bahkan hal sesederhana menunggu seseorang pulang, yang dulu terasa pasti, ternyata bisa berubah menjadi sesuatu yang tak pernah terjadi lagi.
Kehilangan tidak selalu datang dengan peringatan.
Ia sering hadir di tengah hari yang terasa biasa.
Belajar Sabar Tidak Seketika
Saat itu, dunia seakan berhenti sebentar.
Orang-orang berkata, “yang sabar ya…”, “ini sudah takdir…”, “harus ikhlas…”
Kalimat itu benar.
Tapi tidak mudah.
Aku belajar bahwa:
sabar tidak datang di hari pertama.
ikhlas tidak langsung tumbuh.
menerima adalah proses, bukan keputusan instan.
Lintasan yang Mengubah Segalanya
Di tengah kabar tentang tragedi kecelakaan di lintasan kereta dekat Stasiun Bekasi Timur yang mengubah hidup banyak orang dalam sekejap, hati ini seperti ditarik kembali pada satu kenyataan:
bahwa kehilangan sering datang di saat yang paling tidak kita duga.
Mereka yang pagi itu berangkat mungkin memiliki rencana yang sama seperti kita semua. Ingin bekerja, ingin pulang, ingin bertemu keluarga.
Namun hidup kadang menyimpan cerita yang tidak pernah masuk dalam rencana manusia.
Aku tidak tahu seberapa dalam luka yang mereka rasakan hari ini.
Tetapi aku tahu rasanya menerima kenyataan yang datang tiba-tiba.
Aku tahu rasanya ketika hidup berubah sebelum kita sempat bersiap.
Pelan-Pelan Berdamai
Seiring waktu, aku belajar…
bukan untuk melupakan, tetapi untuk menerima.
Bahwa percaya pada takdir bukan berarti tidak boleh hancur.
Sabar bukan berarti tidak menangis.
Ikhlas adalah perjalanan panjang yang dijalani sedikit demi sedikit.
Yang Sering Kita Tunda
Dari semua yang terjadi, aku belajar satu hal:
hal-hal yang kita anggap “nanti saja”, belum tentu menemukan waktunya.
Tentang pulang lebih cepat.
Tentang berbicara lebih tulus.
Tentang meminta maaf lebih dulu.
Tentang hadir lebih utuh bagi orang-orang yang kita cintai.
Mungkin kita tidak pernah siap untuk kehilangan.
Dan mungkin kita tidak akan pernah tahu kapan hidup berubah.
Karena pada akhirnya, yang tak pernah terlintas itu bisa saja terjadi.
Dan saat waktu itu tiba, kita hanya bisa berharap bahwa sebelum semuanya berubah, kita sudah benar-benar hidup, benar-benar bersyukur, dan benar-benar mencintai dengan utuh.
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Bank MANDIRI a.n. Nafis Amna 0060011117458
0060011117458
