Kontributor : Syamsa Hawa
Bukan Sembarang Asumsi
“Cinta dalam pernikahan itu omong kosong, yang terpenting itu tanggung jawab!” seruku dulu.
Maklum, aku banyak melihat mokondo yang menjadikan istrinya babu dan pabrik anak, hanya modal 300 ribu per bulan plus dogma agama “Istri akan dilaknat oleh Malaikat jika menolak melayani kebutuhan biologis suami.” Sim salabim… para mokondo ini bebas bikin anak, nganggur bertahun-tahun, pergi nongkrong sampai malam biar kamuflase lagi kerja, tidak lupa weekend menjalankan hobinya, intinya mah… dia gak mau lama-lama di rumah nanti disuruh mengasuh anak.
Otomatis istri memiliki multiperan yang gak kira-kira: Tulang punggung keluarga, babu gratisan, ‘pelacur’ tanpa bayaran, babysitter + pendidik anak-anak. Si mokondo mah bahkan 1 ayat qur’an pun ogah mengajari anaknya sendiri.
Prinsip para mokondo kurang lebih begini: “Kalau istri saya bisa, kenapa harus saya? Kalau istri saya tidak bisa, apalagi sayaaaa????”
Buat yang bingung kenapa istrinya bisa kuat diperlakukan seperti itu begitu lama, anggap aja istrinya ini keracunan dogma agama… “Pasangan adalah ladang amal”. Amsiong gak tuh?
Bantahan yang Terbantah…
Nah, begitu mendengar kalimat pernyataanku yang nampak pesimistis itu, bahwasanya cinta dalam pernikahan itu omong kosong, seorang kakak kelas berkata padaku, “Cinta dalam pernikahan betulan ada kok Shin… buktinya aku dan suamiku.”
Sayangnya, beberapa tahun setelah itu suaminya selingkuh dan akhirnya ia meneleponku kembali, “Shin maaf aku mungkin salah waktu dulu bantah pernyataan dirimu… ternyata aku sekarang talak 3.”
Belasan tahun aku meyakini bahwa cinta dalam pernikahan itu cuma ada di drama TV saja. Dalam kehidupan nyata yang terpenting itu hanyalah tanggung jawab! Hanya dengan itulah pernikahan bisa bertahan.
Makanya, saat dulu aku mengisi kajian tentang pranikah, aku selalu mengingatkan para perempuan agar periksa baik-baik calon suami mereka… maksudnya, jangan sampai ketemu mokondo yang biasanya paket all in one: Gak nafkahin + selingkuh + KDRT (fisik/mental).
Tidak Sampai Membenci Laki-laki
Akhirnya aku bercerai juga, setelah belasan tahun bertahan dengan melakukan tanggung jawabku sendirian tanpa menuntut hak, aku baru menyadari kesalahan terbesarku adalah zalim pada diri sendiri, yakni dengan membiarkan orang lain memperlakukan aku semena-mena.
Membiarkan diriku berbuat baik terus-menerus tanpa mendapatkan kebaikan setimpal sebagai balasan, bahkan yang tragis… orang-orang yang mendapatkan kebaikanku sebagian besar membalas dengan ‘tidak tahu diri’, harga diriku dikoyak-koyak oleh mereka.
Setelah bercerai, aku tak lantas membenci pernikahan atau melaknat laki-laki, karena aku memiliki sosok papa (almarhum) yang kuanggap baik dan sayang anak, maka aku meyakini begini: Biarpun 95% laki-laki di dunia ini brengs*k, tapi aku pasti bisa menemukan laki-laki yang termasuk golongan 5% yang baik. Mulia bukan? Cerai tak mampu membuatku trauma pernikahan #tepuktanganbuatdirisendiri
Akhirnya Ku Menemukannya: Tips Ampuh Menemukan Jodoh Tepat
Ketika aku pertama kali bertemu suamiku yang sekarang, sebenarnya aku rada bingung: Kok bisa ada orang yang berbeda 100% dariku, tapi sama. Wkwkkwkwk. Bingung kan?
Pengandaiannya itu mirip gambar Yin dan Yang, berbeda dan berkebalikan, tapi sebenarnya ‘sama’, saling menggenapkan.
Jadi begini, saat itu aku dapat ide untuk membuat sebuah event di Tahun Baru Muharram, event untuk 200 orang guru se-Bekasi, dan waktunya tinggal 2 pekan saja Gaes. Saat itu, ia bersedia membantuku mencari sponsorship, aku kaget sekaget-kagetnya… karena ternyata cara kerja kami tektok banget, istilahnya nih yak… kerjaan 50 orang panitia bisa beres dan efektif kami kerjakan berdua saja. Betul-betul super klop.
Dulu saat masih kerja di Majalah Ummi, ada Ustadz Qodrat yang berkata begini, “Gampang kalau mau taarufin orang… suruh mereka kerjasama dalam sebuah proyek, akan kelihatan cocok apa nggak karena bisa terlihat semua kebaikan dan keburukan orang ketika dalam kondisi genting, apalagi berkenaan dengan duit.” Aku inget banget ucapan Pak Qo yang sudah nyomblangin 50 pasangan lebih itu…
Nah, saat itu… menurutku calon suamiku ini sangat cool, konsisten dengan komitmennya membantuku mencari sponsor, bukan sekadar omon-omon basa-basi-busuk. Walhasil dalam 2 pekan, ia berhasil mendapat sponsor lebih dari 17 juta Rupiah. Maasya Allah, waktu mepet padahal, tapi bisa. Sedangkan aku, bisa mengundang 200 guru, meng-organize event dadakan dengan perfect dan sangat memuaskan alhamdulillah.
Di momen itu, kami sama-sama bisa melihat kualitas kinerja dan akhlak masing-masing yang mirip. Sama-sama tidak menuhankan duit, popularitas, apalagi pencitraan.
Ia berkata, “Meskipun sebenarnya Shinta dalang di balik event ini, tapi terlihat tidak ambisius, tidak menonjolkan diri, bahkan 70% dana sponsor yang didapatkan betul-betul untuk operasional membayar semua pihak yang terlibat.” Ya, karena memang aku komitmen kalau hanya berhak 30% yaa… hanya sejumlah itu yang kuambil sebagai hak-ku, itupun kubagi dengannya sebagai pihak yang membantu mencari sponsorship.
Rupanya ia juga jeli mengamati tingkah laku aku saat itu. Dan bukan hanya soal kejujuran, ia tahu persis kecepatanku bekerja, proposal bisa jadi dalam semalam, belasan surat pengantar yang sangat detail dan presisi bisa kubuat dalam beberapa menit setelah diminta, poster, video, undangan ke 200 guru, rundown, dan segala sesuatu tentang pengisi acara bisa kudelegasikan pada ahlinya. Dia melihat aku, dan aku melihat dia, dari situlah semua bermula, 2 bulan setelah itu kami menikah. Wkwkwkwk.
Tidak Main ‘Hard to Get’
Aku gak pernah setuju dengan play ‘hard to get’, pura-pura susah didapetin biar cowok penasaran. Bagiku, kalau suka yaa kenapa pura-pura nggak suka??? Dan aku ogah banget membagus-baguskan diri yang emang udah bagus, jadi kepadanya aku justru memperlihatkan sisi gelapku yang jarang orang tahu.
Dari awal, saat akhirnya aku merasakan ketertarikan padanya dan rasanya ia pun juga merasakan tarikan yang sama terhadapku, aku langsung ‘takut-takuti’ dia dengan cerita-cerita buruk tentang diriku sendiri, ku-utara-kan segala keburukan yang menurutku ada pada diriku, tapi ternyata sama dia di-selatan-kan, hehe, alias… dia bisa terima dan bahkan bukan apa-apa baginya.
Lalu, kuperkenalkan ia pada 4 anakku. Biasanya, nyaris semua orang dalam hidupku termasuk teman dekatku sendiri gak kuat kalau lama-lama berdekatan dengan anak-anakku. Mereka heboh, ribut, usil, dan bukan tipe anak-anak yang penurut. Tapi rupanya, dia malah senang banget sama anak-anakku, tidak menganggap mereka berisik, ribut, apalagi beban.
Aku terharu. Maka, saat kemudian ia melamarku… aku pun menerima niat baiknya.
Sampai saat itu, aku sebenarnya belum betul-betul tahu ‘lelaki macam apa’ yang menjadi suamiku kali ini. Aku cuma menuruti intuisiku yang sangat kuat bahwa dia adalah orang yang tepat untukku mengarungi fase kehidupanku selanjutnya.
Pencitraan Tak Baik
Selama ini aku menemukan banyak sekali laki-laki pencitraan yang tampak soleh di luaran, ternyata gak bisa bangun shalat Shubuh sendiri, musti dibangunin istrinya. Aiih #munafik
Nah, suamiku ini kebalikan. Pencitraan dia di luaran itu mungkin dianggap orang sebagai ‘lelaki jahat’, tega, dan galak, karena ucapan dia itu tajam dan sering kali tidak enak didengar terutama oleh orang-orang yang berbuat penyelewengan.
Aku gak menyangka sih ternyata dia orang yang melakukan secara konsisten hal-hal sunah seperti: Shalat malam, puasa Senin-Kamis, baca quran, gak perlu dibangunin yaa… bahkan gak marah-marah juga kalau gak disiapin makanan sahurnya. Jujur aku kaget sih, ternyata sebagus itu hubungan suamiku dengan Tuhannya, pantesan dapat aku (wkwkkwk).
Tapi yang lebih mengejutkan itu sebenarnya mindset dan pemahamannya tentang hidup. Suatu sore kami jalan berdua dan mampir ke tempat es krim duren. Meskipun introvert, tapi kalau sama aku… suamiku ini bisa ngobrol berjam-jam tanpa henti, apa saja bisa jadi bahan tektokan, kalau ada dia mah… mohon maaf ya Hp.
Nah, sambil makan es duren, terdengarlah pernyataan yang mengejutkan bagiku dari mulut suamiku ini.
“Penderitaan itu tidak ada.”
“Gimana gimana?”
“Penderitaan itu gak ada, Allah gak menciptakan penderitaan.”
Wow. Dan ternyata ia sudah meyakini itu sejak SMP. Sesuatu yang bahkan baru kudapat pelajarannya setelah ‘go through hell’ mengarungi berbagai episode kehidupan.
Yap, karena memang penderitaan hanya lahir dari sikap tidak menerima apa yang terjadi. Seseorang yang bisa menerima kenyataan, apa pun itu, tidak akan menderita. Sebaliknya, seseorang yang sulit menerima, sebagus apa pun yang terjadi dalam hidupnya, ia akan merasakan ilusi penderitaan.
Dan suamiku ini gak sekadar ngomong atau sekadar berteori, amat panjang perjalanan hidup yang sudah ia lalui dan ia mampu membuktikan komitmennya terhadap prinsip hidupnya sendiri. Bahkan uang ratusan juta tidak bisa membeli harga dirinya yang begitu tinggi. Dan yap, dia selalu konsisten tentang pernyataannya bahwa dalam hidup itu tidak ada penderitaan yang ada hanya konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
“Kita lahir ke dunia bawa apa sih? Telanjang kan? Jadi kalau sekarang kita pakai baju, punya tempat berteduh, bisa makan, itu artinya kita untung!”
Saat aku terkesima dengan pernyataannya, ia masih sibuk menambahkan.
“Kalaupun kita sekarang telanjang, gak punya baju, gak punya tempat tinggal, itu aja masih impas! Kita gak pernah rugi, rugi apaan? Kita kan gak punya apa-apa… semua milik Tuhan.”
Yang jelas, aku kagum pada pemikirannya.
Seperti Bukan ‘Orang Indonesia’
Bagi orang di luaran sana, pasti suamiku ini dianggap ‘orang aneh’, dia orang yang sangat lurus, yang kalau sudah berjanji, bahkan telat 1 menit pun ia akan menelepon terlebih dahulu untuk mengoreksi, “Ternyata jalanan lebih macet dari perkiraan, saya telat 2 menit ya.” Aiih… telat 2 menit aja dikabarin.
Padahal orang Indonesia pada umumnya, telat 1 jam pun tidak akan minta maaf apalagi mengoreksi. Tipe yang tidak menghargai orang lain. Kalau suamiku ini beda banget, dia sangat menghargai orang lain.
Suamiku tidak seperti laki-laki yang ‘ngaku’ suami tapi gak pernah dengerin apa kata istrinya. Sebaliknya, suamiku mendengar setiap kata dalam cerita dan pernyataanku, bahkan kalaupun terpotong telepon masuk, selesai menelepon ia akan ingat dan melanjutkan “Lanjutin lagi tadi ceritanya gimana…” dan ia tidak lupa bagian potongan akhir ceritaku, padahal aku sendiri sudah lupa tadi udah ngebacot sampe mana.
Suamiku itu… tanpa kuminta tolong sekalipun sudah langsung bertindak. Kipas angin kotor, langsung ia bersihkan, freezer kulkas penuh es langsung ia lelehkan, bahkan sekadar tali goodiebag putus, atau sandal anak putus, langsung ia perbaiki. Aku sampe geleng-geleng sendiri.
“Ini sendal murah kok, beli lagi aja gak usah diperbaiki.” Tetap saja dia perbaiki.
Bahkan ia menjadi ayah sambung yang tegas untuk anak-anakku. Mendidik mereka agar menjadi lelaki sejati.
Ditakut-takutin Banyak Orang, Tapi Aku Gak Takut
Bukan satu dua orang yang ngomong, “Gimana Shin kalau suamimu nanti nikah lagi?”
Aku gak paham apa motivasi orang nanya begini, tapi berhubung dari dulu aku netral tentang poligami, maka jawabanku jelas ..
“Gak pa pa,” jawabku.
Aku bukan penolak poligami bahkan sejak aku usia 19 tahun dulu pertama kali memutuskan mau menikah… kalau seorang suami memenuhi kualifikasi, bagiku gak kenapa napa poligami, Tuhan saja tidak melarang. Poligami itu justru adalah pembatasan jumlah istri, karena zaman dahulu 1 laki-laki bisa menikahi ribuan perempuan.
Aku udah bilang suamiku ada satu syarat kalau dia mau menikah lagi.
“Apaan tuh?”
“Cari yang lebih baik dariku, jangan malu-maluin aku! Kalau malah nikahin yang lebih jelek, atau lebih bodoh, ngapain? Itu namanya penghinaan buat aku.”
Mungkin suamiku mengira aku gak punya rasa cemburu dengan berkata ringan seperti itu soal poligami. Tapi asumsi itu salah besar sih. Karena aku pernah merasakan bagaimana menikah serasa tak punya suami, bagiku kalau ada suami yang baik, sangat wajar jika ia diberi Tuhan lebih dari 1 istri, agar ia bisa mendidik lebih banyak perempuan.
Lagipula, orang kebanyakan itu logikanya gak masuk kalau sebegitu menghina poligami, tapi mengagungkan Rasulullah shalallaahu ‘alaihissalam sebagai manusia sempurna, apa nggak aneh tuh? Gak matching gitu loh. Ada lagunya segala tentang Aisyah, nah… kalau Anda menghina poligami… berapa banyak istri Nabi dan shahabiyah yang secara gak langsung Anda cap sebagai ‘pelakor’?
Termakan Omongan Sendiri
Jadi, kesimpulannya… aku akhirnya kemakan tulah sendiri karena dulu pernah berkata “Cinta dalam pernikahan itu bullsh*t”. Ternyata kini aku mengalami apa yang disebut mencintai, dicintai, oleh suamiku sendiri. Bahkan aku tak lagi butuh validasi seperti memajang foto video di medsos dan status untuk mengatakan cinta padanya.
Biarlah kata-kata sepanjang artikel ini menunjukkan sepersekian persen dari kesyukuran yang kurasakan saat ini menjadi istrinya. Dan biarpun dia bukan tipe yang suka mengumbar kata cinta, tetap saja aku gak bosan untuk menyatakan berulang-ulang, apa yang selama ini tidak pernah bisa kuucapkan dalam pernikahanku sebelumnya, karena biarpun people pleaser tapi aku orangnya gak bisa bo’ong. 3 kata:
Love you, Suamiku…
By Admin :
Jika tulisan ini menginspirasimu, kamu bisa mengapresiasi sang penulis lowh.. ^__^
Tahu gak? Apresiasi pembaca memberi energi positif bagi penulis. Jika berkenan, kamu bisa menitipkan dukungan via Dana
081283505658
