Contributor : Syamsa Hawa
Dulu, ada cara aneh untuk tahu aku lagi hamil. Begitu gigi geraham kiri kanan terasa cenat cenut, kemungkinan besar aku hamil (lagi). Ya, ada lubang di gigiku yang sering aku abaikan, dan selama hamil 4 kali… selama itu pula ngilu selalu kurasakan.
Dahulu kala, aku adalah tulang rusuk yang berubah fungsi jadi tulang punggung, bukan hanya bekerja di kantor, aku punya tambahan mengajar privat Mandarin (chat me kalau mau les ya), menulis di website ini-itu, mengisi acara di sana sini, semata-mata karena ada fungsi kepala keluarga yang tak berjalan seharusnya, walhasil… aku menekan diri sendiri untuk menambal segala kebutuhan keluarga dengan apa pun yang aku bisa.
Sehingga aku nggak ada waktu dan nggak merasa penting juga untuk kunjungan ke dokter gigi. Karena kan jadwalku padat dengan kerjaan. Jadinya, tiap hamil harus bertambah penderitaan karena lubang gigiku kembali meronta-ronta, kalsium mereka diambil untuk keperluan janin.
Nah, selain lubang gigi geraham… gigi depanku juga bermasalah. Dulu tiap di foto aku pasti mingkem karena malu tampilan gigi depanku yang kurang oke, sekitar 3 gigi seriku berlubang juga sejak SMP. Biar pun sudah pernah ditambal, tapi warna tambalannya membiru atau menguning, jadi kalau senyum terlihat agak janggal.
Ogah Keluar Uang untuk Diri Sendiri
Aku bukan orang pelit atau perhitungan, aku pernah membantu orang lain beli mesin jahit, beli hape, traktir makan teman kerja rame-rame, tapi aneh banget… aku selalu merasa sayang keluar uang untuk diri sendiri.
Apalagi buat betulkan gigi, dijaketin atau veneer, tambal biasa aja ku anggap mahal banget.
“Yah, sayang amat, habis tiga ratus ribu cuma buat satu gigi doang… Mending traktir teman makan siang di Restoran Korea. Bisa bermanfaat untuk orang lain.” Gitu batinku.
Ya sudah, tanpa sadar… lubang di gigiku terpelihara hingga belasan tahun. Bukan cuma sakit, tapi juga membuat mulut berbau tak sedap.
Lucunya, saat itu aku bangga pada diriku karena terbukti bahwa aku adalah orang yang mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Dan ternyata ketahananku terhadap sakit gigi kuat banget, orang aja sakit 1 gigi sudah gak tahan, aku bisa tahan hingga bertahun-tahun bahkan aku tahu caranya menyirnakan rasa sakit itu dengan kekuatan pikiran. Aku gak sadar kalau pengabaianku terhadap gigiku sendiri adalah bukti selflove ku rendah.
Bercerai dan Veneer Seharga Sejuta Lebih per Gigi
Tiga tahun setelah bercerai, barulah mulai terbersit di pikiranku untuk meng-upgrade diri secara fisik. Gak tanggung-tanggung, aku sampai bersedia mengeluarkan uang sebesar 1,2 juta per gigi dan langsung membetulkan 2 gigi sekaligus di hari yang sama.
Seandainya dokternya gak kecapekan, aku bakalan paksa 3 gigi sekaligus di hari itu juga.
Aku yang dulunya merasa sayang keluar berapa ratus ribu doang, rupanya bisa berubah drastis begitu sudah tidak lagi stay dalam pernikahan disfungsional.
Sembari mulutku menganga membiarkan dokter gigi ahli merenovasi gigiku perlahan-lahan, step by step, hatiku merasakan keharuan luar biasa. Aku bersyukur pada Tuhan yang telah mengizinkan aku memiliki uang untuk membetulkan gigi, bahkan aku merasa bayaran veneerku itu murah.
Bayangkan… hanya dengan membayar 1,2 juta per gigi, aku bisa mendapat fasilitas dilayani dengan teliti oleh seorang ahli yang telah belajar di fakultas Kedokteran gigi bertahun-tahun lamanya. Mungkin ia telah investasi keahliannya ini hingga ratusan juta Rupiah, juga investasi peralatan lengkapnya yang modern. Belum lagi asisten yang selalu sigap membantunya.
Memang ngilu ketika mengikuti prosesnya, tapi rasa haru yang menyeruak jauh lebih besar daripada kengiluan dibor.
Aku pernah ‘berdarah-darah’ dalam rumah tangga yang disfungsi, maka kesakitan ngilu gigi tidak ada apa-apanya. Serius, itu yang kurasakan saat itu.
Bukan hanya veneer, dua gigi gerahamku wassalam dan harus dioperasi kecil karena tinggal menyisakan secuplik mahkota gigi yang tersisa. Jadi, betul-betul butuh beberapa hari bolak-balik ke dokter gigi dan aku bersedia meluangkan waktu serta biaya untuk itu.
Perubahan besar penampilan fisikku terlihat begitu veneer selesai. Lalu, tiba-tiba aku seolah mendengar gigiku berbicara…
“Terima kasih Shinta, kamu akhirnya tidak menelantarkan kami lagi. Kamu merawat kami, maka kami pun akan merawatmu.”
Kurang lebih seperti itulah. Akhirnya aku memahami pentingnya berinvestasi untuk tubuhku sendiri yang selama ini telah menjadi kendaraanku melakukan banyak hal.
By Admin :
Jika tulisan ini memberi makna, kamu bisa mendukung penulis dengan secangkir kopi virtual ^__^
Kirim dukunganmu via Dana
081283505658
